Whistle Carnival, Bangkitkan Semangat Perempuan Penyintas Bencana

0
151

PALU – Ratusan perempuan penyintas bencana Kota Palu, Sigi, Donggala dan sekitarnya, mengikuti Whistle Carnival 2018, di Taman Gelanggang Olahraga, Kota Palu, Senin 10 Desember 2018. Acara itu untuk memperingati 70 Tahun Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Karnaval tersebut menampilkan sejumlah atraksi seni dari para perempuan penyintas bencana. Mulai dari tari Peule Cinde yang dibawakan sebagai tari pembuka kegiatan, tarian jepeng, hingga flashmob yang dibawakan secara ramai oleh para remaja PKBI.

Kegiatan itu sekaligus menjadi rangkaian dari Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dengan membawa tajuk misi yaitu Perempuan Bergerak Pulihkan Sulteng.

Selain itu, sejumlah kelompok perempuan penyintas bencana mendirikan stand penjualan makanan, minuman, snack, dan berbagai dagangan khas lainnya yang dijual dengan harga terjangkau.

Selain itu terdapat pula pameran foto dan infografis mengenai bencana dan perempuan, perlombaan desain poster, pemutaran film pendek hingga penampilan dari pemusik nasional.

Fadila, salah satu peserta kegiatan ini, bersyukur dapat mengikuti Whistle Carnival tersebut. Menurutnya, karnaval yang digelar ini dapat membangkitkan semangat dan ekspresi bagi para wanita agar tidak lagi didera kesedihan. “Kita harus bangkit dan jangan sedih. Saya pikir karnaval ini bisa menjadi wadah untuk membangkitkan semangat untuk hidup dan juga untuk mengatasi kesedihan karena bencana,” tuturnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulawesi Tengah Ir. Maya Malania Noor MT, mengatakan, bahwa bencana telah memberi pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya bagi kaum perempuan. Ia mengajak kepada perempuan agar dapat menumbuhkan tekad dan semangat untuk segera bangkit dari musibah yang melanda mereka pada 28 September lalu. “Kita harus dapat memetik hikmah dari semua ini agar mendapat berkah dari musibah ini.

Tumbuhkan tekad dan semangat kita untuk bangkit dan harus ditumbuh kembangkan agar kita dapat hidup secara bebas dari bayang kelam di masa lalu,” kata Maya Malania di depan para tamu undangan. Maya juga mengungkapkan akan terus mengembangkan dan membangun kerjasama dalam rangka pemberdayaan perempuan penyintas bencana dan saat ini masih bertahan di tenda pengungsian.

“Kita mengupayakan adanya kerjasama yang kita bangun ke depan dan akan terus kita kembangkan. Kami terus berusaha untuk pemberdayaan perempuan yang masih berada di pengungsian. Bersama bergerak menuju Indonesia tangguh,” ucap beliau.

Karnaval tersebut dilaksanakan atas kerjasama dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulawesi Tengah, UNFPA, Libu Perempuan, Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST), PKBI, Yayasan Plan International Indonesia dan Yakkum Emergency Unit.

Reporter: Zulrafli Aditya
Editor: Ika Ningtas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini