Warga Tukar Pohon Kelapa dengan Tanah untuk Bangun Tenda

0
134
Keterangan: Rumah dulu tertimbun pasir. Dan tempat baru kini berdiri tenda biru, tempat bernaung untuk menjalankan puasa.

SIGI – Korban banjir di Desa Bangga – Sigi, tidak mau terlalu menggantungkan nasib mereka kepada pemerintah. Mereka mencoba berbagai cara untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak, walaupun pemerintah sedang memikirkan untuk merelokasi mereka, mengingat Desa Bangga kini tak lagi layak huni.

Ramadan yang tinggal dalam hitungan hari, memaksa warga untuk mengupayakan nasib mereka sendiri. Di tengah keterbatasan pangan dan papan serta belum adanya uang tunai maka tidak banyak yang bisa dilakukan. Salah satunya yang paling memungkinkan adalah pola barter.

Seperti yang dilakukan Suami (51) warga dusun II Desan Bangga yang rumahnya nyaris lenyap dilumat pasir yang dibawa banjir, Minggu 28 April lalu. Suami bersama istrinya Murni (56) akhirnya sepakat untuk menukar pohon kelapa dengan sebidang tanah seluas 14 x 23 meter. ”Itulah pilihan yang paling mungkin. Setidaknya sudah punya tanah. Soal bangun rumahnya nanti dipikirkan,” ungkap Murni di lokasi pengungsian.

Kemarin sesuai transaksi, beberapa pohon kelapa langsung ditebang. Rumput-rumput mulai disiangi. Dalam hitungan jam, berdiri tenda biru. Di sinilah Suami dan istrinya bersama anak-anaknya, Fadhel dan Resti akan menjalani ramadan 2019.

Suami mengatakan, tanah seluas 14 x 23 meter ditukar dengan 15 pohon kelapa yang sementara berbuah. ”Jika dibeli dengan uang tanah seluas itu harganya Rp10 juta. Tapi tidak ada uang tunai, jadinya baku tukar saja,” katanya. Setidaknya saat ini, ia sudah mempunyai tanah sendiri, nanti tinggal cari uangnya untuk bangun rumah.

Bersamaan dengan itu, atap seng di rumah yang sudah tertimbun pasir langsung diambil. Plus rangka rumahnya. ”Atap seng dan rangka kayu masih bisa digunakan untuk membangun pondok. Jadi tidak perlu lagi membeli yang baru,” ungkapnya.

Fadhel mengaku, rumahnya yang dulu menyimpan banyak kenangan. Mereka kakak beradik tumbuh dan berkembang bersama di rumah itu. Untuk bisa membangun rumah itu, aku mantan karyawan di Palu Grand Mall ini, butuh waktu yang tidak sebentar. Tapi banjir yang datang 28 April lalu melenyapkannya hanya hitungan menit.

Walau demikian, Fadhel mengaku tetap bersyukur, ia dan keluarganya selamat. Bahkan kini sudah mendapat hunian baru dalam suasana yang baru pula.

Kelak di atas tanah tersebut, keluarga kecil ini akan kembali menata masa depannya, bersama anak-anaknya. Anak bungsunya, Resti (13) tahun ini akan lulus. Rencananya akan melanjutkan pendidikannya di SMP Bulubete – Sigi, berjarak dua desa dari tempatnya kini.***

Penulis: Yardin Hasan
Foto : Yardin Hasan
: Fadel Hamlin & Fanty Hamlin
Editor : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini