Warga Masih Bangun Pemukiman di Jalur Sesar

0
477
JALUR SESAR - Plang jalur sesar Palu Koro yang banyak tersebar di beberapa sudut Kota Palu

PALU – Rumah Ramlah (46) di Jalan Cemara Palu Barat, tampak baru dipugar. Material bekas masih terlihat teronggok, sebentar lagi dibuang. Dinding dan atap rumah juga masih paduan antara yang lama dan baru. Tampak sekali rumah yang didiami 4 anggota keluarga ini baru saja selesai dipugar. ”Belum sebulan kami pindah di sini,” sahut Ramlah sambil membersihkan sisa material di dekat selokan, akhir pekan lalu.

Rumah Ramlah berdiri di jalur sesar Palu Koro. Karena itu tak jauh dari rumahnya berdiri sebuah papan peringatan. Ditanya soal itu, Ramlah tampak pasrah. ”Mau bagaimana lagi,” katanya.

Asnidar warga di Jalan Cemara lainnya, mengaku membangun rumahnya dengan sisa puing-puing bangunan porak-poranda saat gempa, awal bulan Maret 2019, kembali membangun rumah panggung tepat diatas jalur patahan sesar Palu Koro. Huntara diperuntukkan untuknya, tak bisa menampung keluarganya dengan lima anak telah tumbuh dewasa. Warga yang tak punya pilihan akhirnya memilih membangun di zona terlarang itu.

Mahmud Abas Ketua RT setempat, mengaku tidak bisa melarang warganya sekalipun ia pernah mendengar ada larangan dari pemerintah untuk tidak mendirikan pemukiman di atas sesar aktif itu. Setahun lalu katanya pernah ada poster yang ditempel, berisi kawasan ini adalah jalur sesar. Warga diminta tidak mendirikan bangunan di atasnya. Apakah ada sosialisasi soal itu? ”Tidak ada,” katanya.

Sekitar sepuluh meter dari rumah panggung yang dibangun Asnidar berdiri plang di jalur sesar di Jalan Cemara. Patok yang dibuat oleh tim peneliti ekspedisi Palu-Koro itu memiliki barcode. Jika barcode itu di scan menggunakan smartphone, pengguna HP akan di arahkan ke website Geo Tour di laman pencarian.

Setelah masuk di laman tersebut, secara otomatis pengguna HP diberi informasi yang berbunyi “saat ini anda sedang berdiri di atas retakan permukaan (Surface Rupture) Sesar Palu-Koro, segmen Palu yang bergerak pada tanggal 28 September 2018.”

Tim peneliti Palu Koro, Neni Muhidin, mengatakan, pemerintah harus persuasif kepada warga yang membangun ulang di garis retakan permukaan (surface rupture) sesar Palu Koro. “Persuasif karena pemerintah harus memberi solusi, ” ujar pendiri perpustakaan mini Nemu Buku ini, 24 September.

Dia mengatakan, jika tidak membangun di situ lalu dipindahkan ke mana. Retakan permukaan itu sudah ditentukan sempadan sesarnya. “Jarak sempadan juga telah ditentukan di dalam dokumen rencana induk penanganan bencana Sulteng,” ujarnya.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Syafruddin A Mahurati, menjelaskan bahwa 15 meter dari jalur dilalui sesar Palu Koro warga tidak boleh mendirikan bangunan. “Sebatas masih mengimbau, belum ada landasan alas hukumnya, ” ujarnya. Dia mengatakan, pemerintah akan membuat peraturan daerah (Perda) , terkait hal tersebut. “insyaAllah akhir Desember 2019 ini Perdanya selesai,” ujarnya. ***

Penulis : Ikram
Foto      : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini