Warga Lolu Berharap Lapangan Kerja Baru

0
131

SIGI – Bencana alam yang meluluhlantakan beberapa desa di Kabupaten Sigi 28 September 2018 menyebabkan sebagian penduduknya kehilangan lapangan pekerjaan. Di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, lahan pertanian rusak dan gagal panen akibat rusaknya tanggul irigasi yang mengairi sawah maupun perkebunan mereka.

Tempat-tempat usaha warga juga rusak parah dan hancur akibat gempa. Pascabencana terjadi, sebagian besar warga yang menggantungkan hidupnya dari petani terpaksa menganggur tak punya lapangan pekerjaan.

Dua bulan pascabencana terjadi, UNDP meluncurkan program padat karya atau bantuan non-tunai (BNT) bekerjasama dengan organisasi Relawan untuk orang dan alam (ROA) ke Desa Lolu. Warga bisa kembali bekerja membersihkan puing bangunan di desa mereka dengan upah Rp80 ribu per hari.

Setiap 1 KK hanya diberikan kesempatan bekerja sebagai peserta padat karya selama 25 hari. Setelah itu akan digantikan oleh peserta lain yang belum mendapat kesempatan pada tahap sebelumnya.

Fahrudin, warga Desa Lolu, yang menjadi salah satu penerima manfaat padat karya tahap pertama mengatakan, setelah masa kerja 25 habis, dirinya bersama warga lainnya kembali menjadi pengangguran. Pasalnya, lahan pertanian tak dapat lagi diolah karena mengalami kekeringan.

”Harus menunggu berapa lama kami bisa kembali bertani sampe pemerintah memperbaiki tanggul yang rusak, sementara kebutuhan hidup harus kami penuhi. Kami juga tidak mau terus berharap bantuan, karena kebutuhan hidup bukan hanya sekedar sembako yang dibagikan, tapi masih banyak kebutuhan lainnya, “ ujarnya.

Menurutnya, warga lolu yang mayoritas sebagai petani membutuhkan lapangan pekerjaan baru, sehingga bisa mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “setelah tidak bekerja sebagai peserta padat karya, saya lebih banyak di rumah atau di pengungsian. Kadang ada juga yang panggil untuk bantu-bantu kerja dan upahnya hanya untuk tambah-tambah jajan anak-anak,” kata Fahrudin.

Hal yang sama dialami Ateng warga Lolu yang saat ini sudah kembali menganggur karena masa kerja sebagai penerima manfaat padat karya UNDP berakhir. Dia juga lebih sering berada di pengungsian karena tidak ada pekerjaan. Padahal kebutuhan untuk membeli bahan bangunan untuk memperbaiki kembali rumahnya yang hancur masih sangat banyak.

“saya berharap ada tempat kerja baru biar hanya jadi buruh kasar karena kalau mau bertani kembali kami juga butuh modal. Sawah dan kebun rica gagal panen karena kekeringan,” kata Ateng dengan penuh harapan.

Menurutnya, harus sampai kapan warga menganggur menunggu keadaan kembali stabil seperti semula sementara kebutuhan hidup harus dipenuhi.

Kamis (21/12/2018) Pemerintah Daerah Sigi memberikan bantuan alat pertanian kepada warga. Sayangnya alat-alat tersebut belum bisa dimanfaatkan karena lahan pertanian mereka rusak dan mengalami kekeringan.

Warga berharap pemerintah daerah juga melaksanakan program padat karya seperti yang sebelumnya mereka terima,karena program yang dilaksanakan oleh UNDP di Desa Lolu sangat terbatas dan tidak dapat menjangkau seluruh warga.

Penulis : Kartini Nainggolan
Editor: Yardin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini