Warga Korban Tsunami Menaruh Asa dari Harga Jual Ebi

0
308
PENGERINGAN - Ariyani (59) terlihat mengaduk-aduk Ebi (udang-udang kecil) yang sebentar lagi dijual ke pembeli (foto Ikram)

SIANG sekira pukul 14.15 WITA matahari tidak begitu terik, cuaca terlihat mendung disertai hujan gerimis mengguyur Kota Palu. Tepat di jalan depan masjid terapung, kelurahan Lere, kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Jumat (3/12), yang rubuh paska gempa dan tsunami.

Ariyani (59) terlihat mengaduk-aduk Ebi (udang-udang kecil) sebagian mulai mengering yang dijemur terhampar diatas paranet, agar udang dibawah bisa terkena sinar matahari “vesimo karja, ane Ledo vesi nuapamo rakava (beginilah kerja, kalau tidak begini apa mau didapat) , ” dalam bahasa daerah Palu dialek Kaili Ledo.

Ia menuturkan, pekerjaan menjemur udang ini baru dilakoninya paska gempa 28 September silam, pekerjaan sebelumnya berdagang di pasar. Gempa disertai tsunami menghancurkan rumah tempat dia berteduh bersama dua anaknya masih sekolah tinggal bersama, sementara 4 anaknya yang lain telah menikah mengikuti suaminya masing-masing, semua berada diluar kota Palu.

“tidak ada harta tersisa, cuma baju di badan saja,” tutur ibu paruh baya telah ditinggal suaminya menikah dengan wanita lainya. Dia mengatakan, harta telah ludes dibawa tsunami serta ditinggal suaminya menikah, membuatnya harus bekerja keras, meski raganya sudah tak sekuat dulu. “Anak-anak setiap ke sekolah minta uang jajan,” katanya.

Ketidakstabilan perekonomian keluarga paska gempa, mengakibatkan salahsatu anaknya telah duduk di kelas 2 SMA Alkhairaat memutuskan berhenti sekolah. Ia mengatakan, sudah mau membayar anak-anak uang sekolah, belum ada uang. “Jadi mama lebih baik saya berhenti saja,” kata Ariyani menirukan ucapan anaknya.

Apalagi kata dia, bapaknya tidak menafkahi sudah menikah dengan wanita lain. Ia bersyukur bisa selamat, kini dia bersama dua anaknya tinggal di hunian sementara (Huntara) disediakan Kompas di jalan Asam III.
Untuk sampai ketempat menjemur udang , terkadang dia harus berjalan kaki sejauh sekitar 3,2 killometer dari tempat hunian sementaranya. Udang dijemur dibelinya dengan nelayan setempat dengan harga Rp 300 ribu perbakul besar berupa udang mentah.

Udang ini lalu dijemurnya, butuh waktu 1- 3 hari bila matahari panas bisa cepat kering. Untuk dijualnya kembali dengan harga Rp 60 ribu perkilogramnya. “dari menjual udang inilah ada sedikit keuntungan, bisa digunakan membeli kebutuhan sehari-hari seperti beras serta bumbu dapur lainya,” ujarnya sambil terus mengaduk-aduk udang jemurannya.

Dia berharap, tahun 2020 ini bisa segera menempati hunian tetap dijanjikan pemerintah, biar bisa lebih konsentrasi mencari nafkah. “Hanya kartu keluarga dan kartu tanda penduduk terus saja diminta-minta, belum ada realisasinya,” ujarnya. ***

Penulis  : Ikram
Editor    : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini