Usai Bencana, Warga Sulteng Rentan ISPA, Diare dan Hipertensi

0
147

PALU – Warga di Sulawesi Tengah yang terdampak bencana gempa, rentan menderita berbagai penyakit. Hal itu berkaitan dengan kondisi pengungsian yang buruk.

Data dari Kementerian Kesehatan RI, menunjukkan, pada 4 Oktober-4 November 2018, ISPA menempati penyakit tertinggi yakni sebanyak 9.844 kasus, disusul diare akut 4.527 kasus dan hipertensi 4.197 kasus.

Jumlah itu tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi. Rinciannya, penderita ISPA di Kota Palu sebanyak 3.670 kasus, diare akut 1.890 kasus dan hipertensi 1716 kasus.

Di Kabupaten Donggala, penderita ISPA mencapai 2.657 kasus, diare 1.618 kasus dan hipertensi 1.064 kasus. Sedangkan Kabupaten Sigi 3.517 kasus ISPA, 1.019 kasus diare akut dan hipertensi 1.417 kasus.

Hingga saat ini, kasus diare masih terus terjadi. Sri Handayani, pengungsi Blok 3 di Petobo, Palu Selatan, mengatakan, dia dan dua cucunya yang berusia 6 dan 2 tahun menderita diare pada awal pekan lalu. Namun, karena tidak terlalu parah, Sri dan dua cucunya hanya menjalani rawat jalan setelah mendapatkan pengobatan dari pos kesehatan.

“Biar sakitnya tidak makin parah, saya bawa dua cucu meninggalkan pengungsian. Kami menginap di rumah mertua,” kata Sri Handayani, 23 November 2018.

Demikian juga yang dialami Putri yang berusia 1 tahun 7 bulan. Menurut ibunya, Ilon, anaknya itu diare hebat setelah sepekan menghuni pengungsian di Petobo. “Anak saya dirawat tiga hari,” kata Ilon.

Ilon menduga kondisi pengungsian yang kotor menjadi biang anak-anak di pengungsian mudah terkena diare dan muntaber. Kondisi toilet misalnya, kata Ilon, sering berbau menyengat karena kurangnya air untuk menyiram kotoran.

Di sisi lain, air dari toilet sering meluber mendekati tenda pengungsian karena saluran pembuangan yang kecil. Kondisi itu menyebabkan nyamuk dan lalat sering bertebaran di siang dan malam hari.

Data dari Rumah Sakit Anutapura Palu, juga menunjukkan, angka diare meningkat. Sebulan pascabencana, RS Anutapura merawat 11 orang pengungsi karena diare. Dua pekan berikutnya, jumlah pasien bertambah 17 orang. Sebagian besar penderíta diare itu berusia anak-anak.

Hasil penelitian
Menurut Brennan & Kimba (2006), penyebaran diare berkaitan dengan sumber air tercemar, kontaminasi air selama transportasi dan penyimpanan, penggunaan alat masak bersama, kurangnya sabun, dan makanan yang terkontaminasi. Pada tsunami Aceh tahun 2004 lalu, 85% pengungsi di Kota Calang mengalami diare setelah meminum air dari sumur yang terkontaminasi.

“Penyakit diare menyumbang sebanyak 40% angka kematian di lokasi bencana dan pengungsian,” tulis Brennan dan Kimba dikutip PR NEWSWIRE edisi 9 Oktober 2018.

Infeksi saluran pernasapan akut merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di antara pengungsi di Banda Aceh akibat tsunami tahun 2004. Risiko infeksi saluran pernapasan akut akan meningkat karena kondisi pengungsian yang terlalu penuh, ventilasi yang kurang, gizi kurang, dan cuaca yang dingin.

Prof. Wiku Adisasmito sebagai koordinator Indonesia One Health Univerty Network, mengatakan, untuk mencegah penyebaran penyakit di situasi pascabencana, dibutuhkan kerjasama multisektor untuk pengadaan tempat pengungsian bersama yang memenuhi standar.

Tempat pengungsian bersama seperti tenda-tenda darurat atau barak, kata dia, harus dalam kondisi layak agar tidak membuat angka korban jiwa semakin bertambah akibat penyakit menular.

“Kondisi tempat pengungsian yang layak ditandai dengan tersedianya air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai, serta pangan yang mencukupi,” katanya kepada PR NEWSWIRE.

Reporter: Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini