Usai Bencana, Tingkat Kemiskinan di Sulteng Diprediksi Meningkat

0
150

PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memprediksi jumlah penduduk miskin bertambah 18.400 jiwa pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September 2018.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah, Patta Tope mengatakan, angka itu mendongkrak tingkat kemiskinan Sulawesi Tengah tahun 2019 meningkat menjadi 14,42 persen atau total sekitar 438.610 jiwa.

“Tetapi seiring dengan perbaikan ekonomi pascapemulihan, secara perlahan kemiskinan dapat menurun kembali,” kata Patta Tobe, November lalu.

Selain angka kemiskinan baru, bencana juga diprediksi berdampak pada menurunnnya pertumbuhan ekonomi di Sulteng dari 6,24 persen menjadi 1,75 persen.

Sementara inflasi justru meningkat dari 3,65 persen menjadi 10,28 persen. Dengan perkiraan penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut, penciptaan kesempatan kerja hanya sekitar 18.372 orang.

“Pengangguran terbesar diperkirakan berasal dari sektor industri manufaktur, konstruksi, dan transportasi,” kata dia.

Patta Tope menyatakan, perekonomian Sulteng diproyeksikan akan pulih kembali dalam empat tahun mendatang, dengan syarat investasi di Sulawesi Tengah tumbuh rata-rata di atas 25 persen dalam waktu 4 tahun.

Direktur Utama PT Bangun Palu Sulawesi Tengah, Andi Mulhanan Tombolotutu menjelaskan, pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat, bahkan diprediksi tidak akan sampai 4 tahun, jika investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu dapat cepat terealisasi.

PT Bangun Palu Sulawesi Tengah adalah Badan Usaha Milik Daerah yang diberi tugas sebagai Badan Pengelola KEK Palu. Menurut Mulhanan, pasca gempa, tsunami dan Likuefaksi yang melanda Palu, Donggala dan Sigi 28 September 2018 lalu, ternyata tidak menyurutkan semangat para investor untuk berinvestasi di KEK Palu.

Andi Mulhanan Tombolotutu, mengatakan, sejumlah perusahaan yang telah datang ke Palu dan menyatakan segera berinvestasi di KEK Palu itu antara lain PT Indo Mangan Industri, PT Sarana Dwima Jaya, PT Hashimoto Gemilang Indonesia dan salah satu perusahaan asal China lainnya.

Menurut Mulhanan, PT Indo Mangan Industri akan membangun smelter pengolahan batu mangan dengan nilai investasi Rp1,2 triliun. Perusahaan ini merupakan joint venture antara Inggris dan Indonesia.

Mereka akan mendatangkan bahan baku dari tambang batu mangan di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat untuk diolah di pabrik yang akan dibangun di KEK Palu. “Perusahaan ini sudah mulai pembangunan pabrik dan ditargetkan selesai selama setahun. Dan pada 2020 sudah mulai beroperasi,” kata Mulhanan.

Kemudian PT Sarana Dwima Jaya, yang membangun pabrik baja ringan, panel, holo, atap dan kalsiboard. Pembangunan pabrik ini juga sedang berjalan dan ditargetkan beroperasi pada April 2019.

Nilai investasi Rp100 miliar. Kemudian, perusahaan asal China, kata Mulhanan, bergerak di bidang industri pengolahan bijih tembaga.

Saat ini, pihak perusahaan tersebut sedang menyelesaikan berbagai administrasi yang disyaratkan oleh pihak badan pengelola KEK Palu, selanjutnya akan menghitung nilai investasinya, melakukan pembebasan lahan, kemudian memulai pembangunan pabrik.

Dua perusahaan lainnya adalah pabrik pengolahan chips untuk biomass yang berasal dari Jepang bernama PT Hashimoto Gemilang Indonesia. Perusahaan ini bekerjasama dengan PT Astra, karena bahan baku chips itu adalah cangkang sawit yang berasal dari pihak PT Astra.

“Mereka sudah datang ke Palu dan serius berinvestasi,” katanya.[]

Penulis: Ochan Sangadji
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini