Usaha Tenun Sarung Donggala Bangkit Lagi

0
259

SEKIAN lama vakum, Kerajinan tenun Donggala kini bangkit lagi. Para penenun sempat terhenti dan menepi sejenak usai dihajar gempa berkekuatan 7,4 SR September tahun lalu. Menghidupkan kembali tenun Donggala ini, tak semata untuk menyambung mata pencaharian para pegiatnya. Jauh di atas itu, tenun rakyat ini adalah warisan leluhur yang wajib diteruskan. Dimanapun. Kapanpun.

———

Jari-jari Darna tampak begitu lincah ‘memainkan’ peralatan tenun yang ada di hadapannya. Darna sedang menenun selembar sarung yang di sela-sela Mini Ekspo yang dihadiri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di Yojokodi Covention Center, Jalan Moh Yamin – pekan lalu.

Darna hanyalah satu dari sekian banyak usaha tenun sarung Donggala yang aktif melestarikan kain khas Donggala itu. Dia kembali bangkit setelah memperbaiki rumahnya untuk seadanya di Desa Ganti Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

Aktifnya Darna langsung direspons salah satu pengelola usaha ole-ole di Donggala. Usaha ole-olenya juga kesulitan mendapatkan hasil tenunan untuk dipasarkan. Linda harus memodali penenun berupa peralatan tenun dan bahan baku.

Sementara Linda, selaku pengelola usaha ole-ole khas Donggala mengatakan hingga bulan keenam setelah bencana, usahanya masih sulit untuk berkembang. Saat penenun sarung Donggala sebelum bencana dan bermitra dengannya cukup banyak.

Namun kini hanya tersisa 35 orang pengrajin saja yang sudah kembali menenun. Lima penenun bermitra dengan usaha Ole-Ole Khas Donggala yang dikelola Linda.

“Agar mereka para mitra penenun bisa kembali aktif, kami bantu mereka berupa peralatan tenun hingga bahan baku. Hasil tenun mereka kami juga yang memasarkan,” kata Linda, pemilik Usaha Ole-Ole Khas Donggala “Tiga Dara”, beberapa hari lalu.

Linda menyebutkan untuk sarung dan salempang tenun Donggala bersulam emas dihargai Rp1,5 juta. Salempang bermotif biasa dihargai Rp500 ribu per lembar dan sarung seharga Rp500 ribu. Sedangkan untuk keperluan laki-laki dapat ditebus Rp 400 ribu per lembar.

Untuk pemasaran, kata Linda saat ini masih bertumpu pada pesanan atau orang datang membeli langsung. Untuk menyelesaikan selembar sarung tenun dibutuhkan waktu tiga bulan.

“Produksi tergantung pesanan. Biasa juga ada pesanan dari kantor-kantor untuk pakaian seragam dan pesta. Pesanan dalam jumlah besar akan mendapat potongan harga,” ujarnya.

Linda berharap pemerintah ikut mendorong kebangkitan kembali sarung tenun khas Donggala yang sudah menjadi warisan turun temurun di daerah ini.

“Pemasaran butuh dukungan dari berbagai pihak agar usaha tenun tetap berproduksi. Pemerintah seharusnya memperbanyak event dan promosi untuk mendukung penjualan,” kata Linda. ***

Reporter dan Foto : Pataruddin
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini