Untad Verifikasi Mahasiswa yang Tinggal di Huntara

0
475
VERIFIKASI – Tim pendataan dan verifikasi dari Untad, tengah mendata mahasiswa yang tinggal di huntara, di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala.

PALU – Rektor Untad, Prof. Mahfudz mengatakan, saat ini ia telah menurunkan tim khusus untuk mendata Mahasiswa Universitas Tadulako yang menjadi korban bencana gempa 28 September 2018. Pendataan dilakukan langsung di huntara, Kota Palu, Sigi dan Donggala.

“Pendataan dilakukan untuk mengetahui berapa banyak mahasiswa korban bencana yang masih tinggal di huntara dan akan diberikan UKT K-1,” katanya saat dihubungi via ponsel beberapa waktu lalu.

Ia mengakui ada kelemahan sistem IT mereka, sehingga tidak dapat menyimpan data-data mahasiswa yang telah diberikan UKT-K1. Maka, kata dia, tim yang ditugaskan itulah yang turun langsung untuk mendata mahasiswa korban bencana.

Menurut dia, tim yang dibentuknya itu di bawah kendali Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan (Warek Biduk), Dr. Muh Nur Ali, dan dikoordinir langsung oleh Dr. Golar dan Dr. Amiruddin Kade.

Tidak hanya itu, pihaknya juga sedang mengumpulkan data dari fakultas masing-masing, dan akan dicocokkan dengan data dari tim yang turun langsung ke lokasi huntara.

“Berdasarkan keputusan rapat 12 Agustus 2019 lalu, maka mahasiswa korban bencana alam yang tinggal di huntara akan menjadi prioritas pemberian UKT-K1,” jelasnya.

Langkah ini diambil, menyikapi fakta masih banyak mahasiswa korban bencana 28 September 2018, yang kini masih tinggal di huntara.

Sebelumnya, pihak untad telah mengambil langkah menyisir seluruh mahasiswa yang telah melakukan pembayaran UKT Kategori (K-1) Rp500 ribu per semester, namun berubah menjadi K-3 yakni Rp1,75 juta per semester, sebagaimana diberitakan di sejumlah media.

Menurutnya hasil penyisiran tersebut segera ditetapkan dalam Surat Keputusan Rektor, dengan UKT K-1 Rp500 ribu per semester, hingga yang bersangkutan menyelesaikan studinya selama 14 semester.

Langkah ini selain sebagai koreksi atas sistem yang tidak menyimpan data UKT K-1, juga untuk memberi kepastian hukum bagi mahasiswa yang tinggal di huntara, bahwa hingga mereka menyelesaikan studinya, UKT yang wajib mereka bayar adalah K-1 Rp500 ribu per semester.

Mereka yang terdata dari tiga kabupaten/kota tersebut dan terlanjur membayar UKT K-3 Rp1,75 juta per semester, akan segera diubah menjadi UKT K-1 Rp500 ribu per semester.

Dengan demikian, pembayaran Rp1,75 juta yang terlanjur disetorkan, akan dibuatkan Surat Keputusan Rektor, yang menetapkan bahwa dana sebesar Rp1,75 juta ini, akan dijadikan pembayaran untuk tiga semester kedepan, setara tiga semester kali Rp500 ribu, berikut sisa Rp250.000 akan menjadi investasi pembayaran untuk semester empat.

Dengan demikian, mereka yang telah membayar Rp1,75 juta, tinggal membayar Rp250 ribu pada semester keempat, untuk mencukupkan 500 ribu, dari dana yang masih tersisa Rp250.000.

Rektor juga menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas keterbatasan sistem IT Untad yang tidak mampu menyimpan data-data yang sudah UKT K-1 berubah menjadi UKT-K3.

Harapan kami, lanjut dia, pemberian UKT-K1 yang berarti mahasiswa membayar UKT sebesar Rp500 ribu, dapat membantu dan meringankan beban orang tua mahasiswa.

“Dalam kondisi saat ini, Untad sebagai institusi pendidikan tinggi harus hadir dan peduli, juga ini bukti bahwa negara selalu hadir dalam berbagai kondisi bangsa ini.” Tutupnya.

Penulis/Foto : Jefriyanto
Editor             : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini