Tonji Seko, Pengalaman Mitigasi Bencana To Kaili

0
148

SEJAK dahulu, masyarakat Suku Kaili telah mempraktekkan pola-pola mitigasi bencana, berdasarkan pengetahuan lokal yang mereka miliki. Pengetahuan lokal ini, terejahwantahkan lewat tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, yakni tutura (bertutur), yang telah diwariskan dalam masyarakat Kaili, dari generasi ke generasi.

Adapun pengetahuan lokal tersbeut meliputi sastra lisan seperti dadendate, kayori, kemudian penamaan tempat berdasarkan nama tumbuhan/hewan, peristiwa alam, tipologi lahan, serta peristiwa sejarah, serta pengetahuan tentang pertanda dari alam, misalnya hewan.

Terkait pertanda dari alam, khususnya hewan, Peneliti dari Komunitas Muda Peduli Hutan (Komiu), GIfvents Lasimpo, mendokumentasikan sejumlah informasi menarik. Informasi tersebut dituangkannya dalam makalah presentasinya berjudul Mitigasi Bencana Berbasis Pengalaman Masyarakat Kaili di Lembah Palu, yang dipresentasikan pada kegiatan Tesa Ntodea yang dilaksanakan Komunitas Bela Indonesia (KBI) Chapter Sulteng, Februari lalu.

Dalam makalah tersebut, Gifvents menjelaskan, salah satu hewan yang menjadi penanda kabar pada masyarakat Kaili adalah burung. Salah satu jenis burung yang dipercaya membawa kabar atau pertanda, berdasarkan keyakinan masyarakat Kaili, adalah burung Cekakak Sungai. Dilansir dari Wikipedia, Cekakak sungai atau dalam bahasa Latin disebut Todirhamphus chloris, adalah spesies burung dari keluarga Alcedinidae, dari genus Todirhamphus.

Burung ini merupakan jenis burung pemakan kadal, serangga besar, katak, ulat, cacaing yang memiliki habitat di daerah terbuka dekat perairan, kebun, kota, tepi hutan, tersebar sampai ketinggian 1.200 mdpl.

Cekakak sungai memiliki tubuh berukuran sedang, yakni sekitar 24 cm. burung ini memiliki warna biru dan putih, dengan mahkota, sayap, punggung, dan ekor berwarna biru kehijauan berkilau terang, serta strip hitam melewati mata. Kerah dan Tubuh bagian bawah putih bersih. Iris coklat, paruh atas abu tua, paruh bawah pucat, kaki abu-abu.

Burung ini bertengger pada bebatuan atau pohon. Adapun Cekakak Sungai tergolong jenis burung yang angat ribut, suara keras hampir terdengar sepanjang hari. Sarang Cekakak Sungai berupa galian di bawah pohon atau tepi sungai. Burung ini berkembang biak bulan Maret-Juni, September-Desember. Adapun penyebaran burung ini tersebar di Asia Selatan, Asia Tenggara, Australia, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, serta Papua.

Dalam makalah tersebut, Gifvents menjelaskan, hampir di seluruh wilayah Lembah Palu, berdasarkan keyakinan masyarakat Kaili, Cekakak Sungai dalam bahasa lokal sering disebut dengan sebutan Seko, Tengke, Pepate, atau Papate.

Masyarakat Suku Kaili berkeyakinan, jika burung tersebut terbang dan bersuara menyambar atap rumah, burung tersebut diyakini membawa kabar yang tidak baik. Sehingga masyarakat Kaili, sejak dahulu telah mengetahui tanda-tanda akan ada kejadian buruk yang menimpa mereka. Adapun kabar buruk tersebut, biasanya sering dikaitkan dengan kabar kematian atau kejadian buruk lainnya.

Gifvents menuliskan, Mangge Kose (50) yang merupakan masyarakat Kaili komunitas Da’a, saat ditemui di tempat pengungsian Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Desember 2018 lalu, menceritakan tentang pertanda dari burung tersebut di lokasi pemukiman komunitas mereka.

Mangge Kose menceritakan, dirinya bersama warga lainnya, pergi mencari rotan ke Bulu Kondo, nama sebuah gunung dan hutan di dekat kampung, sehari sebelum terjadi gempa, likuifkasi dan tsunami, 28 September 2018.

Dirinya mengisahkan, di sekitar perkampungan mereka, terdengar ramainya Tonji Seko (Cekakak Sungai), bersahutan dan menyambar banyak atap rumah warga. Fenomena tersebut menurut kepercayaan mereka, adalah pertanda bahwa akan ada musibah besar yang terjadi.

“Naria tonji seko nomoni, kana nariamo inga kami. Nuapa tomajadi.? (Ada Burung Seko (Cekakak Sungai) berbunyi, membuat kami waspada. Apa yang terjadi?),” ujar Mangge Kose, sebagaimana dikisahkan Gifvents.

Pascabencana, Mangge Kose mengatakan, walaupun rumah mereka rusak, namun mereka bersyukur karena semuanya selamat. Hal itulah kata dia, yang menjadi sebuah kesyukuran, karena Tuhan masih menolong mereka

“Sou kami ri kondo nagero pura, tapi nasikuru kami da’a ria nakuya (rumah kami rusak di Kondo, tetapi syukur kami baik-baik saja),” lanjutnya. Gifvents menuliskan, menurut Mangge Kose Tonji Seko (Cekakak Sungai), seakan menjadi alarm bencana alam dan pembawa kabar buruk. Adapun kepercayaan tersebut, telah turun temurun dititipkan kepada mereka.

“Panguli totu’a nokolu, ane maria seko, kana naria kareba to niulina etu (Menurut leluhur, kalau ada Tonji Seko (Cekakak Sungai) berbunyi, berarti ada yang dia kabar yang ia sampaikan,” tutupnya.

Penulis: Jefrianto
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini