Teluk Palu, Paling Rawan Tsunami

0
156

PALU — Pengamat kebencanaan Sulawesi Tengah, Abdullah, mengatakan, pantai Teluk Palu adalah wilayah paling rawan tsunami di dunia. Sebab dalam 100 tahun telah terjadi tiga kali tsunami —peristiwa yang tak pernah terjadi di pantai lain.

Tsunami itu terjadi pada 1 Des 1927 setinggi 15 meter dan menyebabkan 14 orang tewas dan 40 terluka. Kemudian pada 20 Mei 1938 dengan tsunami setinggi 4 meter. Terakhir, tsunami pada 28 September 2018.

“Tidak ada pantai yang pernah mengalami dua kali tsunami dalam 100 tahun. Teluk Palu justru terjadi tiga kali tsunami,” kata Abdullah, dalam diskusi terfokus yang dilaksanakan Kelompok Muda Peduli Hutan (Komiu) dan LBH Apik, di salah satu hotel di Kota Palu, Kamis (20/12/2018).

Abdullah, mengatakan, Teluk Palu dilalui sesar aktif Palu-Koro yang sering memicu gempa dan tsunami. Sesar Palu-Koro adalah sesar geser dengan ciri sinistral, dengan panjang 500 km. Sekitar 250 km sesar itu berada di laut dan sekitar 250 km di darat.

Teluk Palu sendiri memiliki panjang 30 kilometer, lebar sekitar 9 km dan kedalaman maksimum 700 meter.

Dengan kerawanan yang tinggi itu, kata Abdullah, seluruh kawasan pantai Teluk Palu harus bebas dari pemukiman. Sebab sesuai pengalaman 28 September 2018, warga yang tinggal di pantai tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri karena tsunami datang hanya 3-4 menit setelah gempa 7,4 SR.

Dalam Peta Ruang Rawan Bencana, wilayah pantai Teluk Palu telah ditetapkan masuk zona merah atau terlarang. “Pemerintah dan warga harus taat pada zona terlarang itu,” kata Abdullah yang juga dosen Geofisika Universitas Tadulako.

Sebelum bencana 28 September, kawasan pantai Teluk Palu adalah salah satu pemukiman padat. Akibatnya, tsunami banyak menelan warga di kawasan pesisir. Kelurahan Talise, misalnya, mencatat jumlah korban jiwa per 19 Desember 2018 berjumlah 168 orang dan rumah rusak berat sebanyak 169 unit.

Sedangkan di Kelurahan Lere, tercatat, ada 93 korban jiwa dan 267 rumah lenyap karena hempasan tsunami.

Juru bicara Satuan Tugas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sulawesi Tengah, Rudy Nofrianto, mengatakan, pemerintah belum menentukan kampung mana saja yang akan dipindahkan.

Saat ini, kata Rudy, pemerintah bersama pihak terkait masih mendetailkan Peta Zona Ruang Rawan Bencana. Pendetailan itu nantinya menyangkut batas wilayah per zona, dan lokasi-lokasi yang akan dipindahkan.

“Kemungkinan selesai Rabu pekan depan,” kata Rudy dihubungi lewat telepon.

Penulis: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini