Teknologi “Base Isolation” untuk Bangunan Tinggi Tahan Gempa

0
308

PALU — Bangunan lebih dari tiga lantai di Kota Palu sebaiknya menggunakan pondasi tahan gempa dengan teknologi “base isolation”. Teknologi itu dianggap dapat mengurangi tingkat kerusakan saat gempa terjadi.

Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Daerah Kota Palu, Singgih Budi Prasetyo menyampaikan hal itu dalam forum diskusi yang bertajuk Forum Warga Membaca Bencana di Rumah Peduli SKP-HAM Sulawesi Tengah, Jum’at (14/12) malam.

“Base Isolation” atau isolasi dasar merupakan suatu sistem dalam mendirikan bangunan dengan menggunakan material khusus peredam getaran. Material ini terletak di antara bangunan dengan pondasi dasar untuk mencegah agar getaran gempa tidak langsung mengenai struktur bangunan. Sehingga beban gempa yang mengenai struktur bangunan menjadi lebih kecil dan tidak membahayakan bangunan beserta isinya.

“Banyaknya bangunan tinggi yang runtuh saat gempa lalu, mengindikasikan bahwa struktur bangunan belum tahan terhadap guncangan gempa bumi,” kata Singgih, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) serta Kepala Dinas Penataan Ruang dan Perumahan (DPRP) Kota Palu itu.

Singgih punya pengalaman studi banding untuk melihat teknologi bangunan tahan gempa di Selandia Baru. Menurutnya, seluruh bangunan tinggi di negara itu, termasuk rumah sakit, telah menggunakan pondasi berbasis teknologi “base isolation”.

Ia bahkan pernah mengusulkan bantuan kepada Kedutaan Besar Selandia Baru agar Rumah Sakit Anutapura Kota Palu dapat dibangun dengan teknologi serupa. Saat itu, Kedutaan Besar Selandia Baru telah menyetujui usulan tersebut.

Namun karena masalah administrasi yang berbelit, bantuan tidak dapat terealisasi. “Rumah Sakit Anutapura yang ambruk itulah yang sempat saya usahakan untuk bisa menggunakan base isolation,” papar Singgih.

Singgih menambahkan, seluruh pihak harus aktif berpartisipasi agar struktur bangunan dapat bertahan dari guncangan gempa yang kuat dan tidak menimbulkan korban jiwa.

“Sangat sulit untuk mewujudkan hal itu kalau tidak ada kemauan dari semua pihak, terutama dari pemerintah. Dan mudah-mudahan kejadian di 28 September lalu dapat membukakan mata kita,” ucapnya.[]

Reporter: Zurafli Aditya
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini