Tanggul Dinilai Tak Efektif Redam Tsunami

0
2042
Caption: Teluk Palu di Sulawesi Tengah (Sumber: Google Maps)

PALU – Sejumlah peneliti Indonesia, menilai, pembangunan tanggul di Teluk Palu bukan cara tepat untuk mengurangi risiko bencana tsunami. Sebagaimana kegagalan tanggul tsunami di Jepang, yang tak mampu menyelamatkan 20 ribu
korban jiwa saat tsunami melanda Teluk Kamaishi pada 2011.

Pendapat para ahli itu mengemuka dalam diskusi “Palu Koro: Fakta dan Mitigasi” di perpustakaan Mini Nemu Buku, Kota Palu, Kamis malam 8 Agustus 2019.

Diskusi itu dihadiri peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko; ahli gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Mudrik Daryono dan Danny Hilman Natawidjaja; serta Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya.

Bahasan mengenai tanggul itu mengemuka di tengah renfana pemerintah membangun tanggul tsunami sepanjang 7 kilometer dan tinggi 3 meter di Teluk Palu, dengan skema dana pinjaman dari Japan International Cooperation
Agency (JICA).

Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya, mengatakan, bahaya tsunami tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gelombang melainkan panjang gelombang yang datang. Sehingga, semakin panjang gelombangnya, akan tetap
berpotensi melampaui tinggi tanggul.

Ia mengumpakan gelombang tsunami semacam kereta api dengan 12 gerbong yang menabrak sebuah beton. “Begitu dia (kereta api) menghantam, ya dua belas gerbongnya itu ikut menghantam sampai berhenti,” kata Gegar.

Faktor gelombang tsunami tersebut yang merusak kawasan pesisir di sekitar Teluk Palu pada 28 September 2018. Dalam durasi 4 menit, tsunami Teluk Palu datang dengan panjang antara 2 hingga 3 kilometer. “Jadi, mau selebar dan
setinggi apa tanggul dibuat, akan tetap dilompatin (tsunami),” katanya.

Hal itu juga yang menyebabkan mengapa tanggul di Teluk Kamaishi yang dibangun pada 2009 tidak efektif meredam tsunami 11 Maret 2011. Padahal Jepang membangun tanggul tersebut dengan anggaran U$ 1,5 miliar di
kedalaman 63 meter dan panjang 1950 meter serta memecahkan rekor dunia. Apalagi berdirinya tanggul di Jepang itu turut mengubah psikologis penduduk setempat.

Mereka merasa lebih aman dan tak perlu menyelamatkan diri ketika gempa besar melanda yang disusul tsunami. Inilah yang memicu jatuhnya banyak korban jiwa.

Menurut Gegar, sebaiknya pemerintah memilih vegetasi hutan pantai untuk mengurangi dampak bahaya tsunami di Teluk Palu. Investasi untuk vegetasi jauh lebih murah dan hasilnya tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
Sedangkan biaya membangun tanggul lebih mahal dengan risiko mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan.

“Bandingkan dengan megawatt pohon. 50 tahun nanti pohonnya semakin besar dan tidak perlu dirawat,” katanya.

Hal senada disampaikan peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko. Menurut dia, pembangunan tanggul Teluk Palu yang akan menelan Rp 800 miliar sangat kontras dengan penanganan korban bencana yang masih berlangsung. Terlebih lagi pembangunan tanggul itu menggunakan dana hutang dari luar negeri.

“Uang sebegitu banyaknya lebih baik untuk yang lain. Apalagi di tengah bantuan perbaikan rumah untuk korban yang belum semuanya dapat,” kata dia.

Widjo pun merekomendasikan penanaman mangrove karena lebih efektif mengurangi tinggi tsunami hingga sekitar 30 persen. Hal itu berdasarkan penelitiannya di empat daerah yang ditumbuhi mangrove yakni Kabupaten
Nias, pantai barat Aceh, Kelurahan Kabonga Besar dan Labuan Bajo, Kabupaten Donggala.

“Mangrove dengan kerapatan 1 persen bisa mengurangi 20-30 persen ketinggian tsunami,” kata dia.

Apalagi, kata Widjo, tinggi tsunami di Teluk Palu pada 28 September lalu hanya berkisar 4 meter atau tergolong tipe tsunami menengah (medium tsunami) dengan jauh genangan antara 200-300 meter.

Dihubungi terpisah, Humas JICA, Putri Diana Siahaan, mengatakan, rencana tanggul dan program rehabilitasi-rekontruksi Sulawesi Tengah masih didiskusikan secara intensif bersama ahli geologi dan tsunami Indonesia sejak
Rabu-Jumat, 7-9 Agustus 2019. “Tidak hanya diskusi namun juga ada kunjungan lapangan di Teluk Palu serta lokasi-lokasi bencana lainnya,” kata dia.

Reporter: Irwan Basir
Editor : Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini