Tanam Mangrove untuk Masa Depan Pesisir Mamboro

0
453
Warga Mamboro bersama Jaringan Arsitek Indonesia (JARI) menanam mangrove di pesisir utara Kota Palu, Kelurahan Mamboro Induk, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sabtu, 10 Agustus 2019.

PALU – Warga Mamboro bersama Jaringan Arsitek Indonesia (JARI) menanam mangrove di pesisir utara Kota Palu, Kelurahan Mamboro Induk, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sabtu, 10 Agustus 2019.

Mangrove tersebut ditanam tidak hanya sebagai benteng alami yang melindungi permukiman dari gelombang laut, tapi juga memulihkan lingkungan. Salim, Ketua RT 3 RW 4, Kelurahan Mamboro Induk merasa bersyukur masih ada orang yang peduli, dan mau membudidayakan tanaman pemecah ombak ini.

Ia menceritakan, sebelum terjadi bencana tsunami 28 September 2018 silam, sebenarnya ada mangrove besar tumbuh di pesisir Pantai Mamboro, namun, jumlahnya tidak lebih dari 10 pohon. Kemudian jarak antara pohon yang satu dengan lainnya berjauhan, sehingga tidak mampu menahan derasnya tsunami ketika itu.

Akibatnya, lanjut dia, saat gelombang pasang tiba, air laut bisa sampai ke jalan Trans Sulawesi km 11 Mamboro hingga memasuki hunian warga yang kebetulan dibangun di seberang jalan.

Belajar dari pengalaman itu, Salim mengajak warga Mamboro agar menjaga dan melestarikan mangrove yang telah ditanam. “Mangrove ini harus dijaga dan jangan sampai dirusak,” tegas Salim.

Salim merupakan salah satu dari ribuan korban yang selamat dari bencana dasyat yang meluluhlantakkan Kota Palu, Sigi dan Donggala. Kondisi rumahnya rusak parah akibat hantaman tsunami.

Ketua Dewan Pembina JARI Sulteng Iskandar Nongtji mengatakan, penanaman pohon bakau di pinggiran pantai pasca bencana tsunami ini sangat perlu dilakukan, selain melestarikan lingkungan juga sebagai alat alami penghambat gelombang air laut pasang.

“Aksi tanam mangrove ini sebagai salah satu upaya mitigasi bencana dan sangat cocok ditanam di kawasan pesisir pantai,” ujarnya di sela-sela aksi tanam mangrove.

Iskandar Nongtji menuturkan, Mamboro merupakan salah satu wilayah terdampak parah pascabencana tsunami. Sehingga, wilayah ini dijadikan lokasi budidaya mangrove. Aksi tanam mangrove ini, juga diikuti beberapa anak pecinta alam kampus, di antaranya Mapala Sagarmatha Universitas Tadulako, Tim Ekspedisi Putri Bahari Mapala Lawalata Institut Pertanian Bogor (IPB) serta Duta Wisata Sulteng.

Senada dengan Iskandar, Fitra Muhammad, Ketua Mapala Sagarmatha Untad, mengatakan, aksi yang dilakukan ini adalah langkah kecil namun akan memberikan manfaat yang besar dikemudian hari. Ia memastikan jika tanaman mangrove telah tumbuh besar menjadi pohon yang rindang maka akan memecah ombak.

Fitra Muhammad bukan satu-satunya anak mapala yang peduli terhadap keberlangsungan hidup tanaman mangrove, Indriani Widyawati pemimpin Tim Ekspedisi Putri Bahari Mapala Lawalata juga ikut serta menanam mangrove, bahkan ia menjadikan aksi tanam mangrove ini sebuah rangkaian agenda Ekspedisi Maritim ketiga yang telah direncanakan sebelumnya.

Menurutnya, tujuan dasar dari ekpedisi yang semuanya diikuti perempuan ini adalah fokus pada pengambilan data pesisir Teluk Palu pasca tsunami, dan seperti apa kondisi hutan mangrove yang ada di sepanjang Teluk Palu. “Semoga aksi tanam mangrove ini bisa bermanfaat bagi warga Mamboro,” harapnya.

Kata dia, bibit pohon bakau yang ditanam adalah jenis mangrove Sonneratia atau dikenal dengan nama Pedada ini berasal dari Kelurahan Lere Kota Palu. 300 bibit Mangrove Sonneratia yang ditanam ini,telah memasuki usia semai.

“Diperkirakan tanaman ini akan menjadi pohon yang besar sekitar 10 hingga 20 tahun mendatang.” tutupnya.

Penulis/Foto : M. Faiz Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini