Tak Ada Kejelasan Huntap, Pengungsi Balaroa akan Bangun Hunian di Zona Merah

0
142

PALU – Sembilan bulan pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi masih menyisahkan banyak masalah. Salah satunya belum ada kejelasan pembagian hunian tetap bagi korban likuefaksi di Kelurahan Balaroa.

Salah satu penyintas bencana likuefaksi, Andi Kharisma, mengatakan, hingga saat ini ia belum mendapat kejelasan pembagian hunian tetap. “Padahal rumah saya hancur total dihantam likufakasi 28 September 2018 lalu,” kata Andi warga Kelurahan Balaroa, Rabu, 10 Juli 2019.

Jika pembagian hunian tetap tak kunjung terealisasi dari pemerintah sampai akhir tahun ini, Andi akan nekat membangun hunian di tanah miliknya yang kini masuk dalam kawasan zona merah. Menurut Andi, dia sudah tak tahan terus-menerus tinggal di tenda pengungsian.

“Kami tahu kalau Balaroa terkena zona merah. Tapi, mau bagaimana lagi, sampai kapan kami tidur di tenda pengungsian, sampai kapan kami harus merasakan penderitaan ini,” kata Andi.

Kesepakatan membangun hunian dalam zona merah itu juga telah disepakati oleh sejumlah warga yang ikut menjadi korban likuefaksi Balaroa. Meski warga sendiri, kata Andi, sebenarnya ingin patuh terhadap aturan zonasi yang diberlakukan oleh pemerintah.

“Namun kami juga butuh kepastian kapan hunian tetap bisa di huni,” katanya lagi.

Lewat kesempatan itu, Ia meminta kepada pemerintah mensosialisasikan setiap tahapan kebijakan pemulihan korban bencana.

Ditempat terpisah, Walikota Palu Hidayat mengatakan, sebelumnya Pemerintah Kota Palu sudah menyediakan lahan seluas 15×10 meter untuk satu kepala keluarga korban yang terdampak bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu.

Lahan tersebut berada di wilayah Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur yang sudah dipastikan dalam kajian bahwa aman dari zona merah.

“Untuk lahan huntap kami sudah sediakan meskipun belum selesai karena masih dalam proses pengerjaan,” kata Hidayat.

Untuk itu, Hidayat meminta kepada warga agar jangan memaksakan diri untuk membangun hunian tetap di zona merah.

Hidayat mengaku memang beberapa korban gempa dan likuefaksi mengancam akan nekat membangun pemukiman di wilayah zona merah jika pemerintah tidak bergerak cepat membangun huntap.
Namun kata dia, kami sudah melakukan sosialisasi bahwa tempat tersebut termasuk zona merah. Maka, warga dilarang membangun pemukiman di wilayah tersebut.

“Tapi kalau masih ada yang nekat membangun pemukiman di tempat itu kami pemerintah justru jadi bingung,” ujarnya.

Aksi nekat pembangunan hunian di zona merah kata Hidayat, sudah mulai terlihat dari upaya beberapa warga yang sudah mulai membangun lapak penjualan hingga membangun hunian walaupun belum selesai dikerjakan.

“Padahal kami dari pemerintah sudah mensosialisasikan hal itu sangat berbahaya. Apapun itu, siapapun dia, tidak boleh membangun hunian di zona merah,” katanya menegaskan.

Penulis: Mohammad Qadri
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini