Suhayati, Pengungsi Balaroa Sahur Supermi Sebungkus Bertiga

0
168

PALU – Meski suaminya lumpuh akibat stroke, Suhayati (47) tak patah semangat menghidupi keluarga termasuk membiayai anak semata wayangnya yang duduk di sekolah dasar.

Bagi kebanyakan orang, tanggungjawab ini mungkin berat. Tinggal di tenda di pengungsian, mengurus suami yang sudah dua tahun hanya bisa berbaring. Dan pada saat yang bersamaan menjadi tulang punggung keluarga adalah tanggungjawab yang tidak ringan bagi seorang perempuan dengan usia menjelang setengah abad.

Beban itu, mungkin terasa makin berat di saat momen ramadan seperti saat ini. Di mana nyaris semua harga kebutuhan pokok naik tajam, tak mau kompromi dengan orang-orang seperti Ibu Suhayati ini. Namun kenaikan harga sembako yang menyiksa itu tidak lantas membuatnya uring-uringan. Setidaknya itulah yang terlihat.

Saat menyambut Redaksi Kabar Sulteng Bangkit (KSB) yang menyambanginya menjelang sahur dinihari tadi, Suhayati bahkan selalu menebar senyum. Bicaranya lugas. Nadanya tegas. Menyiratkan beban hidup yang menghimpitnya kini, bukanlah realitas yang harus diratapi.
Ia cukup dijalani sebagai rutinitas dari hari ke hari.

Termasuk saat ditanyakan menu sahur, subuh hari ini, Suhayati sambil menenteng wajan merinci satu per satu menu olahan untuk sahur hari itu.

”Hari ini saya cukup panasi sayur. Tadi malam ada pemberian lauk dari orang lain,” katanya lugas. Jika tak ada lagi yang bisa dimasak, maka cukup supermi saja.

Pernah kata dia, Sabtu pekan lalu, tak ada lagi bahan yang bisa diolah untuk menu sahur. Tersisa tinggal supermi sebungkus. Itulah yang dimasak untuk sahur bagi mereka bertiga, suaminya Tomi (56) serta anak semata wayangnya.

Kehidupan Suhayati yang sebelumnya tinggal di Jalan Aliander – Balaroa ini, memang sudah berat. Sejak dua tahun lalu, dialah tiang ekonomi keluarganya. Ia menjual kue titipan dengan penghasilan sekitar Rp200 ribu per hari. Namun gempa yang disusul liquefaksi, September tahun lalu, tak hanya membuat rumahnya raib. Satu satunya mata pencahariannya sebagai penjual kue juga hilang.

Kini di pengungsian, ia mencoba kembali menjual kue titipan dari tetangga. Modal kue Rp800 per biji. Lalu dijual Rp1.000. Ia memperoleh Rp200 untuk setiap kue yang laku. Namun dengan kondisi ekonomi warga di pengungsian yang belum benar-benar pulih, usaha jualan kue tidak bisa lagi diandalkan untuk menopang ekonomi keluarganya. ”Paling banyak kue yang laku hanyaRp50 ribuan. Jadi hitung saja berapa untuk saya,” katanya.

Jika sudah seperti itu, tak banyak lagi yang bisa dilakukannya. Selain berharap bantuan relawan. Sebenarnya, ada keinginan untuk mencari kerja di luar kompleks pengungsian. Namun, keinginan itu harus dipendam. Ia harus menyiapkan waktunya 1 x 24 jam untuk menyapih suaminya yang sehari-hari terus terbaring itu.

HARGA NAIK, SEMBAKO TAK TERBELI

Kenaikan sembako saat ramadan, dirasakan cukup memukul ekonomi warga di pengungsian. Ini diakui Ibu Doli (51). Untuk memasak ia tak lagi memakai bumbu dasar. Bawang ataupun cabai. ”Semuanya harga naik. Tidak bisa dibeli. Sementara suami belum ada kerjaan karena tidak ada proyek bangunan di dalam kota,” curhatnya.

Penjual sayur keliling katanya bahkan sudah mengurangi volume. Seikat kangkung harganya tetap seperti dulu. Tapi isinya tinggal beberapa batang. Karena itu, mereka sangat terbantu jika saban menjelang berbuka, ada masyarakat yang membawa menu buka puasa. ”Entah itu makanan atau minuman,” katanya.

Ibu Doli lalu menunjukkan kuah sup di wadah transparan. ”Ini nanti dipanasi supaya bisa buat sahur. Lumayan kalau sayur dari relawan rempahnya lumayan lengkap, berasa enaknya,” katanya terkekeh.

Ibu Doli menuturkan, kehidupan di tenda maupun di huntara, sebenarnya baru solusi sementara. Karena problem terus berdatangan. Terlebih belitan ekonomi, karena mata pencaharian bahkan sekelas buruh bangunan atau buruh cuci harian, sangat sulit didapatkan untuk hari hari ini.

Balada warga di pengungsian ini, mungkin tak hanya kali ini. Ia akan terus ada. Tak hanya saat ramadan. Dan kita membiarkannya hingga mereka mendapatkan jalannya sendiri-sendiri. ***

Penulis & Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini