Suara Perempuan di Tenda Pengungsian, Usai Pilpres – Pileg, Bagaimana Nasib Kami?

0
129
Keterangan: Ibu Ibu di Huntara Petobo menunggu panggilan mencoblos di TPS 07 Petobo

PALU – Pemilihan presiden, Pileg dan pemilihan DPD yang berlangsung 17 April 2019, masih menyisakan banyak tanya bagi ribuan pengungsi yang masih tertahan di tenda atau maupun di hunian sementara (huntara).

Siti Rahmah (43) di pengungsian Petobo, termasuk yang bertanya apakah hasil pemilu, memberikan perubahan yang signifikan bagi kehidupannya pengungsi di huntara. Jarak TPS yang tak jauh dari kediamannya, membuat ibu dua anak ini, merasa tak perlu antre di kursi di TPS. Dari pengeras suara, ia bisa mendengar nama-nama di panggil petugas KPPS di TPS 07 Petobo. ”Saya dari sini saja, di sana panas sekali,” katanya.

Sembari menunggu namanya dipanggil, Rahma dan kerabat yang tinggal sekomplek di huntara Petobo, menyampaikan harapan-harapan mereka terhadap siapa pun yang terpilih. Entah pilpres maupun wakil mereka di DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Siti Rahmah mengaku, ia belum mengetahui apakah hasil pemilu memberi dampak bagi orang seperti dirinya. ”Pokoknya ikut saja dulu. Belum tau yang terpilih bisa perhatikan kita atau tidak,” ujarnya.

Rekannya, Ibu Sidar (31) mengatakan, entah Jokowi atau Prabowo yang terpilih, harus memberikan perhatian kepada pengungsi. ”Bagi kami tidak ada ada harapan lebih. Selain ada perhatian terhadap pengungsi di sini,” harapnya. Ramadan tinggal beberapa hari lagi, setidaknya ada kebijakan yang bisa membuat suami-suami mereka mempunyai pekerjaan. Ibu Sidar mengaku, saat ini suaminya bekerja harian sebagai buruh lepas. ”Kadang ada uang, kadang tidak ada. Bagaimana nanti kalau ramadan,” katanya. Pada ramadan nanti kebutuhan melonjak. Sementara harga kemungkinan naik tajam.

Ibu Siti Rahma mengaku, harga ikan bakal mahal. ”Biasanya tiga atau empat hari ramadan ikan mahal. Yang lainnya juga ikut naik,” katanya.

Walau hari-hari mereka diliputi keresahan, karena para suami yang belum mendapat pekerjaan, ibu-ibu ini tampak ceria. Setidaknya, pada hari pencoblosan 17 April 2019. Sembari menunggu nama mereka dipanggil mencoblos, ibu-ibu ini terlihat gembira. Guyonan soal keseharian mereka di huntara menjadi tema yang menarik mereka bincangkan.

Di tenda pengungsi di halaman Kantor DPRD Donggala, Asnawati (53) tahun, mengaku tidak peduli dengan event demokrasi lima tahunan itu. Dipikirannya hanya secepatnya bagaimana mendapatkan huntara yang sudah dijanjikan pemerintah sejak lama.

Sedangkan, pengungsi lainnya masih di halaman kantor DPRD Donggala, mengaku tidak menggunakan hak pilihnya. Mereka yang mendirikan tenda di halaman kantor DPRD Donggala tak sekalipun ditengok para politisi itu. ”Jangan jangan nanti hasil pemilu akan menghasilkan anggota dewan yang sama. Tidak memperhatikan nasib mereka,” ungkapnya.

Di huntara Petobo, terik panas tak menyurutkan ibu ibu ini menunaikan haknya, memilih pemimpin dan wakilnya di parlemen. Setidaknya dengan ini mereka berharap, politisi dan elit tak lagi mengabaikan nasib mereka. ***

Penulis: Yardin Hasan
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini