Simulasi Mengurangi Ancaman Bencana Berbasis Komunitas

0
216
SIMULASI - Yayasan Arkom menggandeng BPBD dan masyarakat melakukan simulasi bencana program pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Di Lapangan Desa Wani Dua dibuka oleh Sekertaris BPBD Donggala Muhammad Mursyid, pada Sabtu, (19/7/2020). (F-SYARIFA LATOWA

PALU –  Bencana gempa bumi dan liquefaksi, September 2018 silam memberi pelajaran berharga bagi warga Kota Palu. Kota Palu, Sigi dan Donggala adalah jalur utama sesar Palu Koro. Karena itu, warga terus diingatkan bahaya yang terus mengintai saban waktu.

Berkaitan dengan itu, Yayasan Arkom menggandeng BPBD dan masyarakat setempat melakukan simulasi bencana program pengurangan risiko bencana berbasis komunitas dalam rangka membentuk Desa Tangguh Bencana.
Simulasi kebencanaan yang laksanakan pukul 10.49 wita, di Lapangan Desa Wani Dua dibuka oleh Sekertaris BPBD Donggala Muhammad Mursyid, pada Sabtu, (19/7/2020).

Simulasi dimulai dengan aktivitas warga Desa Wani Dua seperti hari-hari biasanya. Sebagian warga ada yang seementara menjemur pakaian, ada yang sedang mandi, menyapu halaman, ada pula anak-anak sedang asyik bermain dilapangan.

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan gempa berkekuatan 7,4 SR dan disertai dengan tsunami. Warga pun kocar kacir mencari tempat berlindung diiringi suara tangisan dan teriakan minta tolong saling bersahutan.

Saat peristiwa itu terjadi, tim peringatan dini membunyikan kentongan dan mengecek potensi tsunami. Tim evakuasi pun langsung melakukan evakuasi warga ke titik kumpul. Warga pun menuju tempat ketinggian untuk berlindung.

Demikian sepenggal simulasi penanggulangan bencana yang diikuti masyarakat Desa Wani Dua. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti simulasi.

Kepala Desa Wani Arsyat Hadi mengungkapkan saat gempa 28 September 2018 ada sekitar 500 rumah rusak berat dan ringan di Desa Wani Dua yang di akibatkan gempa berkekuatan 7,4 SR. Ia bersyukur hari ini Arkom mengajari masyarakatnya bagaimana cara menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami.

“Saya sangat berterimakasih kepada Arkom telah mengajari warga saya tentang penangananggulangan bencana,” ungkapnya. Menurut Direktur Pelaksana Yayasan Arkom Indonesia Yuli Kusworo, simulasi kebencanaan ini dilakukan untuk mendorong terwujudnya masyarakat Desa Wani Dua tangguh dalam menghadapi bencana yang terarah, terencana, terpadu dan terkoordinasi serta mendorong kebersamaan.

“Simulasi ini dilakukan untuk menyiapkan masyarakat Wani Dua dalam menghadapi bencana. Kami berusaha untuk menjadikan Desa Wani Dua menjadi desa yang tangguh menghadapi bencana,” ucapnya.
Menurutnya proses penyiapan simulasi ini sudah dilakukan sejak Februari 2020 dalam rangkaian workshop bersama wakil-wakil warga dari 5 dusun.

Mengapa memilih skenario gempa bumi dan tsunami? Ia menjawab sebenarnya di dalam kajian yang dilakukan warga Februari lalu muncul 4 ancaman bencana yaitu; gempa bumi, banjir tsunami, banjir dan kebakaran.
“Dari hasil kajian itu, masyarakat memilih untuk melakukan simulasi yang paling berat yaitu ; gempa bumi dan tsunami. Jadi dipililah itu menjadi skenario simulasi hari ini,” terangnya.
Ia berharap, model simulasi penanggulangan bencana serupa akan dilaksanakan di daerah dampingan Arkom lainnya yang ada di Sigi dan Palu.

“Kita hanya menunjukan bahwa dalam proses rekonstruksi warga harus sudah masuk dalam fase kesiapsiagaan. Harapannya apa yang dilakukan dalam skala desa ini bisa dikembangkan di desa dampingan Arkom lain yaitu Desa Tompe dan Tanjung Baton, Donggala dan di Kota Palu ada di Kelurahan Mamboro dan Mamboro Barat.

“Ini yang akan kami kembangkan. Modelnya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Artinya peran masyarakat menjadi yang utama dan harapannya ini menjadi satu rangkaian satu titik untuk membangun ketangguhan masyarakat,” ungkapnya.

“Rencananya hal serupa juga akan di lakukan setiap 6 bulan sekali,” tambahnya.
Ditempat yang sama, Sekretaris BPBD Donggala Mursid Sanduan mengatakan, tidak seorang pun bisa memprediksi kapan bencana melanda. Termasuk bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu, Sigi, serta Donggala, Sulteng, 28 September 2018 silam.

“Datangnya bencana seringkali membuat panik warga. Namun tidak bisa dipungkiri, justru kepanikan semacam ini kadang malah menimbulkan banyak korban jiwa,” ujarnya.

Mengapa memilih Desa Wani sebagai tempat simulasi? Ia mengatakan, Desa Wani adalah salah satu desa yang sangat terdampak saat terjadi bencana 28 September 2018 lalu. Ia berharap adanya simulasi bencana program pengurangan risiko bencana berbasis Desa Tangguh Bencana yang dilaksanakan Arkom ini, masyarakat Desa Wani Dua ini memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. ***

Penulis   : Syarifa Latowa
Editor     : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini