Setelah Petani Sigi Kehilangan Sawah

0
131

SIGI – Sudah dua bulan ini, Farida, menghabiskan hari-hari bersama suami, dua anak dan ayah kandungnya di tenda pengungsian Desa Lolu, Kabupaten Sigi. Tidak banyak aktivitas yang bisa ia lakukan, selain merawat kedua anaknya.

Sebelumnya, hari-hari Farida bersama suaminya dipakai untuk menggarap lahan pertanian. Ia punya satu hektar lahan yang biasa ia tanami tomat, kacang panjang, jagung, kacang hijau dan labu.

Pada akhir September, adalah masa bagi Farida untuk menyiapkan panen. Namun bencana likuefaksi melumat lahan beserta seluruh tanamannya. Saluran irigasi untuk mengairi lahannya pun kering tanpa air.

“Lahannya dan irigasinya rusak. Tidak ada air yang bisa dipakai untuk bertanam,” kata Farida, akhir pekan lalu.

Sepekan setelah bencana, Farida dan suaminya datang melihat lahannya. Ia menemukan ada beberapa tanaman yang bisa diselamatkan. Farida pun memetik jagung dan kacang panjang. Hasilnya lalu ia jual ke pasar.

“Hanya dapat sedikit sih waktu itu. Tapi lumayanlah bisa dapat uang karena selama di pengungsian saya tidak pegang uang,” kata Farida enggan menyebut berapa sisa panennya saat itu.

Farida pun berharap pemerintah segera memperbaiki sawah dan irigasi agar pengungsi bisa bertani kembali.

Kabupaten Sigi adalah salah satu lumbung padi di Sulawesi Tengah. Data sementara pemerintah pada Oktober lalu, mencatat, seluas 7.909 hektare lahan persawahan di Sigi rusak dengan potensi kerugian sebesar Rp 21,97 miliar.

Farida tidak sendirian. Petani lain, Yusran, biasanya menanam padi dan jagung secara bergiliran sesuai datangnya musim. Namun, bencana likuefaksi yang melanda 28 September, membuat sawah dan rumahnya di Jono Oge bergeser sekitar 2 kilometer.

Selain bergeser, permukaan sawah tidak rata, konturnya turun-naik. Ini tidak memungkinkan bagi para petani seperti Yusran untuk menggarap sawahnya seperti dulu.

“Sawah sudah tidak bisa lagi digarap. Tanahnya hanyut bersama runtuhan rumah lainnya karena likuefaksi,” katanya Rabu kemarin, 6 Desember 2018.

Yusran pun khawatir dengan masa depan mereka tinggal di pengungsian Pombeve. Ia berharap pemerintah segera memperbaiki lahan pertanian atau memberikan sawah baru agar dia bisa kembali bertani.

“Jika tanah kami yang telah bergeser itu dianggap tidak lagi layak huni, saya dan istri tidak masalah. Tetapi setidaknya tanah tersebut masih bisa kami garap untuk menyambung hidup,” katanya.

Selain berharap bisa bertani, Yusran juga meminta bantuan kambing untuk ternak. Sebab bertani dan beternak sudah menjadi pekerjaan keluarganya sejak turun-temurun.

Kami orang tua hanya bisa mengharapkan pekerjaan seperti itu. Tidak mungkin kami mengharapkan hidup dari ijazah,” katanya sambil berkelakar.

Sama halnya dengan Adi (40), seorang petani suku asli Kaili. Sawahnya di Desa Jono Oge, Sigi, tidak bisa digarap karena terkena lumpur saat likuefaksi. Adi saat ini tinggal di pengungsian yang dihuni oleh 27 Kepala Keluarga (KK).

“Rumah saya hilang bersamaan dengan datangnya lumpur. Semua modal ada di dalam rumah itu. Bahkan beras sebanyak 15 karung yang baru saya giling lenyap bersama rumah. Uang simpanan juga hilang seperti ditelan oleh bumi,” katanya.

Adi pun berharap pemerintah bisa membuat sawah baru untuk petani yang saat ini di pengungsian.

“Setelah nanti sawah diperbaiki dan modal sudah ada, saya akan kembali bertani.” Katanya dengan yakin.[]

Reporter: Rizaldy Alif S.
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini