Setahun Pascabencana, Penyintas Masih Sulit Mendapatkan Air Bersih

0
335

PALU – Selasa, 24 September 2019, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 Wita, namun Mohammad Faiz, masih sibuk menyiapkan ember dan baskom untuk menampung air bersih yang sebentar lagi akan mengalir.

Sembari menunggu air mengalir, pria 28 tahun itu sesekali menyeruput kopi yang di taruh diatas meja tak jauh dari ruang keluarga. Dua jam kemudian, barulah air yang dinanti-nantikan itu mengalir.

Beginilah aktivitas Faiz warga perumahan BTN Palupi, Kelurahan Palupi, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, setiap malam hari tiba.

Faiz, bukan satu-satunya warga Palupi yang mengalami hal itu, ada ratusan kepala keluarga (KK) yang juga kesulitan air bersih di kompleks itu.

Untuk mengantisipasi kekurangan air bersih, warga disekitar BTN Palupi, terpaksa menggunakan mesin pompa air untuk menarik air dari pipa yang dialiri PDAM. “Bila tidak menggunakan pompa air, maka air tidak mampu mengaliri bak atau ember penampung,” terangnya.

Kondisi ini, kata dia semakin parah, bila air bersih mengalir lewat dari jam biasanya, apalagi jika penghuni BTN keluar rumah atau ketiduran dipastikan esok hari tidak mendapatkan air, karena air hanya mengalir sekitar tiga jam.

“Jika malam tak dapat air, maka harus bangun pagi lebih awal supaya bisa mengambil air di masjid menggunakan 2 jerigen ukuran 25 liter,” ucapnya.

“Jarak antara rumah dan masjid sekitar 100 meter,” tambahnya.

Kesulitan air bersih ini sudah dialaminya sejak pertama kali tinggal di BTN Palupi pada tahun 1999. Krisis air bersih semakin parah pascabencan gempa, likuefaksi dan tsunami 28 September setahun silam.

Menurutnya dua bulan pascabencana, air bersih sama sekali tidak mengalir di kompleks perumahan BTN Palupi. Beruntung saat itu, banyak NGO yang menyuplai kebutuhan air warga.

Seiring berjalan waktu, masa tanggap darurat dan transisi selesai semua NGO menarik diri, kesulitan air kembali terjadi.

Bagi warga perumahan BTN, persoalan air bersih seolah tak pernah usai, hingga saat ini belum ada solusi kongkrit yang diberikan oleh perusahaan air minum daerah.

Padahal, setiap bulannya. distribusi air bersih dan urusan sanitasi pascabencana di Sulteng selalu dikoordinasikan dalam Sub-Klaster Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (WASH).

Dalam laporan mingguan Wash Sub-Klaster per 10 November 2018, ada 39 truk yang beroperasi dalam pendistribusian air bersih yang dilakukan oleh JMK OXFAM, Wahana Visi Indonesia, CWS, Palang Merah Indonesia (PMI), Yayasan Sayangi Tunas Cilik-PDAM, Aksi Cepat Tanggap (ACT), serta beberapa lembaga lain.

Dari lembaga-lembaga ini, jumlah armada dari PMI paling banyak yakni 16 unit. Total volume yang didistribusikan saat itu, lebih 624.000 liter/hari. Sedangkan pada bulan Oktober didistribusikan sebanyak 820.000 liter air per hari.

Sementara itu, Nanang warga perumahan BTN Tinggede, sebelum gempa air di kompleks itu mengalir lancar. “Setiap hari mengalir mulai pukul 17.00 Wita sampai 05 .00 dini hari. Setelah gempa, selama tiga bulan air PDAM tidak mengalir,” ujarnya.

Mengantisipasi hal demikian, PDAM melakukan distribusi air melalui mobil tangki air ke rumah-rumah warga. Selain itu, ada sumber air sumur suntik di jalan poros, desa Tinggede menjadi salah satu sumber masyarakat dalam memenuhi kebutuhan cuci, mandi dan kakus.

“Setiap pagi ratusan warga antri mengambil air di sumur suntik tersebut,” tuturnya.

Nanang berkisah, dulu sebelum gempa, sumur suntik di sekitar perumahan itu tidak terlalu deras, pascabencana sumber air sumur suntik tersebut justru menjadi deras.

“Kini air diperumahan BTN Tinggede sudah mengalir seperti biasanya,” terangnya.

Kepala Bagian Teknik PDAM Donggala, Rizal, mengakui, selain kemarau, bencana gempa 28 September 2018 juga menyebabkan 5 dari 17 sumur dalam yang menjadi sumber air PDAM tidak bisa berfungsi.

“Lima sumur itu yakni di Kelurahan Silae, Lasoani 2, Lasoani 4, Pengawu, dan Watutela,” jelasnya.

Rizal menjelaskan, saat ini PDAM sudah memperbaiki sumur dalam di Pengawu. Sedangkan di Lasoani 2 dan Watulela. PDAM melakukan pengeboran ulang di titik yang baru.

Sumur yang rusak tersebut, kata dia, hingga saat ini belum di perbaiki, tapi sudah tahap pembuatan memorandum of Understand (MoU) dan NGO JMK OXFAM, untuk pembuatan sumurnya. “Prosesnya memang agak panjang karena, harus dapat persetujuan dari pusat,” ujarnya.

“Insya Allah perbaikan sumur bor tersebut di rencanakan akan selesai smua pada bulan januari 2020,” tuturnya.

Ia menyebutkan, titik sumur yang akan di bantu ada 4 titik, bila semua terpasang, semua pelanggan PDAM bisa terlayani, asalkan pipanya tidak ada yang putus. Ia berharap semoga pemasangan sumur ini, dibarengi dengan dinas PU untuk memperbaiki pipa yang putus akibat bencana gempa.

Tahun ini, lanjut dia, Balai Cipta Karya akan melakukan penggantian pipa yang putus dan tua, sebab faktor usia. Penggantianya tahun ini masih di wilayah Kecamatan Palu Barat, tahun berikutnya Kecamatan Palu Timur.

Dia mengatakan, jadwal penyaluran air ke BTN Palupi, sudah kembali seperti biasa, sebelum gempa, jadwalnya berubah bila ada gangguan dari PLN.

Ia menambahkan, perumahan BTN Palupi banyak blok, mengalirnya terbagi pada blok-blok tertentu dengan jam tertentu. Misalnya jadwal blok O mulai pukul 09.00-13.00 Wita, kemudian ke blok lainya.

“Jadwal air mengalir itu setiap hari, hanya saja jamnya yang berbeda,” ucapnya.

Menurutnya sumber air di BTN Palupi tidak ada masalah. Hanya saja musim kemarau membuat debet air dari porame agak berkurang. Lain halnya, perumnas BTN Silae, sumber air dari sumur dalamnya tidak berfungsi.
Jumlah pelanggan PDAM sendiri sebelum gempa sekitar 27 ribu dan pasca bencana sisa 26 ribu.

Reporter : Ikram
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini