Sejumlah Warga Lolu Enggan Tempati Huntara

0
129

SIGI – Sumaryono sejatinya telah mendapatkan hunian sementara (huntara) setelah rumahnya rusak karena bencana 28 September lalu. Tapi kini, ia memilih mendirikan tenda di dekat rumahnya, Jalan Mutaji, Desa Lolu, Kabupaten Sigi.

Bagi pria 51 tahun itu, tinggal di dekat rumahnya meski dengan tenda, justru membuatnya lebih tenang ketimbang di huntara. Sebab ia bisa menjaga sejumlah barang berharga yang masih tertimbun di reruntuhan rumahnya.

“Takut hilang diambil pencuri,” kata Sumaryono.
Di dalam rumahnya yang rusak itu, masih ada lemari, tempat tidur dan perkakas rumah tangga lain. Menurutnya, perkakas-perkakas itu tidak mungkin ia angkut ke huntara. Sebab barang-barang itu hanya kian membuat huntaranya sesak.

Dengan luasan huntara hanya 17,28 meter persegi, kata Sumaryono, bilik huntaranya hanya mampu memuat kasur dan kipas angin.

“Huntaranya kecil, tidak nyaman,” kata Sumaryono.
Dia pun belum memutuskan kapan akan membangun rumahnya. Sebab ia khawatir gempa kembali melanda.

“Kami masi takut mau bangun rumah permanen karena nanti ada lagi gempa datang,” kata Sumaryono
Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, adalah daerah yang terdampak parah akibat gempa berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018.

Data resmi dari Desa Lolu, ada 1.228 kepala keluarga (KK) atau 4.447 jiwa yang mendiami desa ini, dan ada 1.108 rumah rusak akibat gempa.

Kepala Desa Lolu, Tarmin mengatakan 90 persen bangunan rumah di Lolu rusak parah dan tidak layak dihuni, sehingga sebagian warga saat ini tinggal di tenda pengungsian maupun huntara yang dibangun pemerintah maupun swasta.

Namun, tidak sedikit dari warga Lolu yang lebih memilih tinggal di rumah mereka yang sudah rusak. Sebab lokasi pengungsian dianggap tidak nyaman dan serba kekurangan.

Tarmin menuturkan bahwa warga di desa Lolu sudah banyak mendapatkan bantuan mulai dari bantuan bahan makanan, pakaian, bahan bangunan, huntara sampai bantuan pembersihan puing-puing rumah yang rusak.

Namun lanjut dia, warga Lolu hingga saat ini meminta kepastian dari pemerintah terkait zona aman wilayah Lolu mengingat kerusakan yang dialami cukup parah.

“Kami sebenarnya minta kepastian aman lokasi pemukiman warga di Lolu, karena sampai saat ini banyak masyawakat yang enggan untuk kembali membangun Karena takut kalau ada gempa hancur lagi rumah mereka,”ujarnya.

Tarmin berharap jika kepastian zona aman sudah ada, maka warga sudah bisa bergerak untuk membangun kembali rumah atau sebaliknya harus relokasi.

Dia juga menyebutkan bahwa ada 22 orang warga Lolu yang meninggal dunia akibat gempa, 20 diantaranya meninggal karena tertimbun reruntuhan bangunan rumah.

Penulis dan foto: Tini Nainggolan
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini