Sejarah Kebencanaan Perlu Ruang Pamer Khusus

0
432
Sejarah Kebencanaan Perlu Ruang Pamer Khusus

PALU – “Sudah saatnya Museum Negeri Sulteng memiliki ruang pamer khusus sejarah alam dan kebencanaan,” ujar arkeolog Museum Negeri Sulteng, Iksam Djorimi, di sela-sela Pameran Khusus Sejarah Alam dan Kebencanaan yang dilaksanakan museum tersebut, Senin (7/10/2019).

Harapan ini tidaklah berlebihan, melihat kebutuhan masyarakat akan informasi tentang kebencanaan, pascabencana 28 September 2018.

Iksam menjelaskan, pameran ini dilaksanakan lewat program pameran khusus, dalam rangka menyambut Hari Nasional Museum Indonesia, 12 Oktober mendatang. Pada pameran khusus tahun ini, bertepatan dengan momen setahun bencana, pihaknya mengambil tema sejarah alam dan kebencanaan di Sulteng.

Pameran yang dilaksanakan di gedung Museum Negeri Sulteng ini, menampilkan sejumlah konten terkait sejarah alam dan kebencanaan, seperti peta geologi, gambaran proses terjadinya tsunami dan likuefaksi, persebaran jalur sesar dan gunung api, serta informasi tentang sejarah alam lainnya. Selain itu, pameran ini juga menampilkan potret sejumlah lokasi yang terdampak bencana 28 September 2018, seperti Balaroa, Petobo, Jono Oge, Mamboro, hingga Wani.

Koleksi pameran yang paling menarik perhatian pengunjung, yang didominasi pelajar dari SD hingga SMA ini, adalah benda-benda yang dikumpulkan tim Museum Negeri Sulteng, sejak sehari pascabencana, dari lokasi-lokasi terdampak bencana di atas. Benda-benda seperti jam dinding, album foto, dokumen, hingga mesin mobil dan hiasan atap dari sebuah bangunan rumah bersejarah di Wani.

Untuk benda-benda dari lokasi terdampak bencana ini, Iksam menjelaskan, pihaknya melakukan pengumpulan sehari pascabencana, dengan melakukan dokumentasi serta meminta izin kepada pemilik rumah untuk mengambil barang pribadinya atau minta izin ke penduduk setempat, untuk dibawa ke museum.

“Misalnya hiasan rumah di Wani, kami minta langsung dengan pihak keluarga,” ujarnya. Selain itu, dipamerkan pula sejumlah koleksi keramik di Museum Negeri Sulteng, yang mengalami kerusakan akibat bencana. Koleksi keramik ini kemudian dikumpulkan dan direstorasi, dengan dukungan dari UNESCO.

Keramik yang dipamerkan adalah keramik yang hancur pasca 28 september. Dalam pameran ini digambarkan proses pengumpulan koleksi yang rusak hingga proses restorasi. Program ini tepat berakhir di 28 September 2019 lalu.

Keramik yang telah direstorasi ini kata Iksam, dipamerkan agar menjadi perhatian bagi kita, terutama pengambil kebijakan, bahwa warisan budaya kita, seperti benda-benda bersejarah, termasuk situs dan bangunan bersejarah, banyak yang rusak akibat bencana.

Selain visualisasi gambar dan benda, ada juga visualisasi video berupa edukasi tentang geologi, patahan, catatan tentang bencana alam, edukasi tentang bencana, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Ada dua harapan dari kelanjutan dari pameran khusus ini kata Iksam. Pertama, pihaknya akan mengusahakan kepada pengambil kebijakan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Sulteng, agar di Museum Negeri Sulteng ada ruang khusus tentang sejarah alam dan kebencanaan.

“Apalagi kita bicara tentang memori kolektif bencana yang kita hadapi kemarin,” ujarnya.Kedua, dalam program pameran keliling Museum Negeri Sulteng ke kabupaten/kota, tema sejarah alam dan kebencanaan ini, akan didorong menjadi salah satu tema penting dalam pameran.

Harapan agar ada ruang khusus tentang sejarah alam dan kebencanaan ini kata Iksam, telah melalui proses yang sangat panjang. Jauh sebelum bencana 28 September kata dia, adanya keinginan museum untuk melengkapi sejarah alam. Museum sendiri terlibat di penelitian geologi oleh LIPI dan Badan Geologi, sejak akhir tahun 2000an, antara tahun 2009 dan 2010. Tahun 2015, museum sudah memamerkan sejumlah informasi tentang sejarah alam, termasuk di dalamnya terkait lempengan-lempengan yang ada di Pulau Sulawesi.

Pascabencana 28 September 2018, mau tidak mau museum harus melengkapi lagi konten sejarah alam, juga sejarah kebencanaan, yang dulu hanya dianggap sebagai pelengkap, tapi sekarang sangat diperlukan, sebagai sesuatu yang harus diinformasikan kepada masyarakat, agar mereka mengetahui potensi kebencanaan di wilayahnya.

Pameran ini sendiri berlangsung dari 3 hingga 8 Oktober. Setiap harinya, pameran ini dipadati oleh pengunjung, yang didominasi oleh siswa dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari TK hingga SMA/SMK/MA.

Ragam ekspresi hadir dari pengunjung pameran ini. Muhammad Putra Tri Wahyudi (16), siswa SMK Muhammadiyah 1 Palu misalnya menjelaskan, ada perasaan sedih yang menyeruak, saat dirinya memandangi benda-benda yang dikumpulkan dari lokasi bencana. Saat bencana terjadi, Putra merasakan langsung di tempat tinggalnya di Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga. Dirinya sempat mengungsi ke Jawa, namun memutuskan tetap kembali ke Palu.

“Saya berharap koleksi tentang kebencanaan ini ditambah, agar masyarakat makin mengerti dengan potensi bencana di wilayahnya,” ujarnya.

Komentar serupa datang dari Nur Fadilah Pusadan (16), siswi SMK Muhammadiyah 1 Palu. Fadilah yang merasakan langsung, bagaimana berjuang menyelamatkan diri dari amukan tsunami yang meluluhlantakkan tempat tinggalnya di Kelurahan Mamboro Barat setahun lalu, turut merasakan kesedihan yang dalam saat melihat koleksi dan potret keadaan Palu beberapa hari pascabencana, Bagi dia, pameran ini sangat bermanfaat, untuk mengedukasi generasi muda agar siap menghadapi bencana, dan mengingatkan kita, bahwa  bencana bisa datang kapan saja. ***

 

Penulis   : Jefrianto
Foto       : Jefrianto

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini