Saat Mie Instan Menjadi Makanan Pokok Pengungsi

0
150

PALU – Bagi Andi Asse dan keempat anaknya, mie instan telah menjadi makanan pokok sejak ia hidup di pengungsian Balaroa, Palu Barat. Makanan cepat saji itu ia konsumsi mulai pagi, siang, hingga sore hari.Dalam satu hari, Andi Asse bisa menghabiskan empat bungkus mie untuk dimakan keempat anaknya. Sehingga dalam satu bulan, mereka bisa menghabiskan lebih dari satu dus mie instan.

“Apalagi anakku kuat makan mie goreng. Tadi pagi saja sebelum anak berangkat ke sekolah sudah dimasak mie empat bungkus. Tapi biasa itu mie dimakan dengan nasi juga,” tutur wanita berumur 32 tahun ini.

Andi Asse tak memiliki pilihan selain memakan mie instan. Sebab hanya mie instan dan beras —bantuan makanan yang sering dikirim ke pengungsiannya. Dua hari yang lalu, misalnya, ia mendapatkan bantuan berupa satu paket yang berisikan empat bungkus mie instan, sabun mandi, sabun cuci, dan pasta gigi.

Hanya beberapa kali saja Andi Asse menerima bantuan makanan sehat seperti sayur kol dan beberapa butir telur. Ada pula donatur yang membagikan nasi bungkus dengan telur atau ayam sebagai lauknya.

“Ada juga biasa orang bawa bantuan nasi bungkus, itu sudah yang kita makan. Isinya biasa telur atau ayam. Tapi hanya sesekali saja orang bawa nasi bungkus,” ucapnya.
Karena bantuan makanan tak selalu lancar, Andi Asse pun biasanya jarang makan. Sebab ia harus berhemat dengan bahan pangan yang tersedia. Apalagi ia harus menghidupi empat orang anak yang membutuhkan makanan setiap harinya.

“Kami disini jarang makan pak kalau di tenda. Beda kalau di rumah, lebih enak kalau makan di rumah, tidak kalau disini. Biasa makan tapi biasa jarang juga makan. Karena bantuan juga cuma empat bungkus mie baru banyak juga anggota keluarga,” ungkapnya.

Ia berharap, bantuan makanan yang akan diterima kedepannya tidak hanya mie instan saja. Tapi dengan bahan makanan yang sehat seperti ikan dan sayur-sayuran, karena dirinya juga khawatir dengan masalah kesehatan yang mengintai dirinya dan keempat buah hatinya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Isna. Ibu rumah tangga berumur 30 tahun ini juga mengonsumsi mie instan setiap hari. “Ini kalau anakku kuat sekali makan mie. Ada pagi, sore, biasa siang juga makan,” ujar Isna.

Djafar, pengungsi lainnya, mengatakan, dia dan keluarganya hampir setiap hari masih mengonsumsi mie instan. Bantuan berupa sayuran, tahu tempe, hingga buah-buahan hanya sesekali saja datang.

Keinginannya untuk mengonsumsi makanan yang lebih beragam dan sehat tak bisa terwujud karena tak memiliki biaya untuk membeli bahan makanan. Pekerjaan, Djafar bersama istrinya sebagai penjual nasi kuning di kawasan Perumnas Balaroa, tak bisa berlanjut sejak bencana. Sebab ia tak punya modal untuk membuka kembali usaha tersebut.

“Harapan saya agar bisa mendapatkan bantuan dari pihak manapun berupa modal untuk membuka kembali jualan saya. Supaya nantinya bisa juga belanja bahan dapur seperti ikan sayur dan lainnya” katanya.

Pengungsi di Jalan Alkhairaat Tondo juga mengkonsumsi mie instan sebagai makanan pokok setelah bencana. Acho, salah satu pengungsi, mengatakan, setiap hari dia biasanya makan mi instan dan telur. Mereka tak memiliki pilihan makanan lain karena hanya itu bantuan yang datang. “Pernah dapat bantuan ayam tapi hanya beberapa kali. Satu atau dua kali saja,” keluhnya

Reporter: Zulrafli Aditya, Faiz Syafar, Rizaldy

Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini