Rumah Kayu Ternyata Lebih Tahan Gempa

0
125

SIGI — Gempa yang mengguncang Kota Palu, Sigi dan Donggala pada 28 September lalu menimbulkan ribuan rumah hilang dan rusak. Rumah yang rusak pun beragam, mulai rusak ringan, rusak sedang, rusak berat hingga tak dapat dihuni kembali.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana, mencatat, pada 28 Oktober 2018 kerugian akibat bencana dari sektor permukiman mencapai Rp 9,41 triliun.

Bencana tersebut memantik kesadaran warga tentang kondisi rumah mereka yang rentan dengan guncangan gempa. Atman, warga Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, merupakan salah satu korban bencana yang rumahnya rusak parah sehingga tak layak dihuni.

Padahal rumah Atman itu baru selesai dibangun Agustus 2018, lewat program bedah rumah. Rumah tersebut beratapkan kayu kelapa dengan dinding batako.

Atman teringat, dahsyatnya guncangan yang akhirnya menggoyah rumah itu. Ia dan keluarganya pun keluar menyelamatkan diri karena khawatir reruntuhan bangunan dapat melukai bahkan dapat menewaskan mereka.

“Gempa membuat rumah hancur semua rata dengan tanah,” kata Atman, Kamis 6 Desember 2018.

Setelah bencana, Atman bersama anak dan istrinya memilih menempati kembali rumahnya yang lama, berjarak beberapa kilometer dari rumahnya yang roboh. Rumah lama miliknya yang seluruhnya berbahan kayu, justru lebih tahan dari guncangan gempa.

Atman pun enggan mendirikan rumah berbahan dasar batu bata. Ia sedang berpikir membuat rancangan rumah yang lebih tahan gempa. Sebab ia menyadari tinggal di kawasan rawan bencana dan gempa suatu saat bisa datang kembali.

“Saya ingin membangun rumah semi permanen. Dinding batako mungkin hanya setinggi 1,5 meter saja. Setelah itu, baru memakai kayu papan ke atasnya,” kata bapak dari tiga anak ini.

Hal senada juga diungkapkan Aldi, salah satu sanak saudara Atman. Menurutnya, selama ini warga memilih untuk membangun rumah berbahan batu karena dinilai lebih modern. Apalagi usaha pembuat batako dan batu bata makin banyak.

Namun bencana menyadarkan Aldi, bahwa rumah kayu justru jauh lebih aman.

“Kami sudah sadar sekarang, kalau rumah berkayu itu jusru tidak berbahaya, tapi rumah tembok justru bahaya kalau gempa,” katanya.

Reporter dan foto: Zurafli Aditya
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini