Ruang Literasi Bencana (1)

0
259

Usia bencana jauh lebih tua dari peradaban manusia. Jejak gempabumi dan tsunami di Palu yang ditemukan dalam bentuk moluska (kerang laut) oleh arkeolog satu-satunya kota ini, Iksam Kaili Sam, adalah mahluk hidup yang hidup 12 ribu tahun yang lalu.

Selain moluska, artefak lain di kawasan megalit Besoa di Poso, ratusan kilometer jaraknya dari Palu, menyimpulkan kepadanya, nenek moyang manusia Sulawesi berasal dari sana, Besoa!

Pusat Arkeologi Nasional memang memberi legitimasi. Artefak tertua di Nusantara ini dari banyaknya situs-situs megalit memang dari sana, dari Besoa (dalam penyebutan lokal dilafal Behoa).

Eksodus nyaris setengah dari total jumlah penduduk Palu dan sekitarnya pasca peristiwa 28 September 2018, adalah pengulangan berpencarnya manusia dari Besoa yang bermigrasi ke empat arah mata angin ribuan tahun yang lalu. Eksodus itu terjadi karena bencana.

Catatan tentang bencana di lembah Palu sudah dimulai oleh geolog Eduard Cornelis Abendanon di buku yang terbit pada 1915 di Leiden, Belanda. Buku yang dibagi dalam 3 bagian dan menghasilkan ribuan halaman —yang saya membayangkan ketebalannya bisa serupa bantal kepala.

Abendanon memberi judul bukunya: Midden-Celebes-Expeditie: Geologische En Geographische Doorkruisingen van Midden-Celebes (1909-1910). Di beberapa bagian dalam buku berbahasa Belanda yang bisa dibaca dari google books itu usaha menerjemahkannya terasa bikin kram otak.

Abendanon yang ini (karena juga ada Rosa Abendanon, sahabat pena RA Kartini) adalah serupa Snouck Hurgronje di Aceh. Intelektual yang ditugaskan Belanda mencatat segala hal tentang alam di wilayah koloni.

Di Sulawesi Tengah, kita juga mengenal duet ilmuwan cum misionaris A. C. Kruyt dan Nicolaus Adriaani yang seringkali dirujuk sebagai sumber utama penulisan sejarah Sulawesi Tengah.

Geolog-geolog zaman now tentu membaca catatan terdahulu. Di lembah Palu dan sekitarnya, memasuki abad 20, peristiwa gempabumi dan beberapa di antaranya diikuti oleh tsunami merentang panjang.

Di buku geologi Abendanon itu, geolog Mudrik Rahmawan Daryonopeneliti sesar Palu Koro menyebut catatan peristiwa bencana gempa 1907 dan berulang menjadi lebih besar pada 1909. Peristiwa 28 September 2018, menurutnya adalah siklus dari dua gempabumi di buku Abendanon itu. Antara 111 dan 109 tahun yang lalu.

1 Desember 1927, gempabumi dan tsunami terjadi di Teluk Palu. Setahun lalu saya menuliskannya di Facebook, memberitahukan sebuah ekspedisi yang saya gagas bersama Trinirmala Ningrum.

Gagasan yang lahir pertamakali sejak pertemuan awal kami di rentang 2009-2010. Mbak Rini saat itu mengoordinir Platform Nasional (Planas), organisasi payung bagi forum pengurangan risiko bencana dari seluruh daerah di Indonesia.

Ekspedisi yang akan melahirkan buku dan video dokumenter itu dimaksudkan untuk memperingati 90 tahun peristiwa gempabumi dan tsunami itu pada 1 Desember 2017. Ekspedisi itu terkendala pembiayaan dan menundanya ke tahun berikutnya, 2018.

20 Mei 1938. Gempabumi terjadi di Teluk Tomini, bersama tsunami menghantam sepanjang pesisir Parigi. Harian Belanda, De Gooi En Eemlander menurunkan berita pada 23 Mei 1938.

Korban dari gelombang pasang merenggut 9 orang dewasa dan 8 anak-anak. Jalan dari Tawaeli ke Parigi putus. Di catatan pakar kebumian Untad, Dr. Abdullah, peristiwa itu juga memicu tsunami di Teluk Palu.

Jika ada peristiwa yang kurang lebih sama dengan yang terjadi pada 28 September 2018 barusan adalah gempabumi dan tsunami yang terjadi 50 tahun lalu, berpusat di Tambu, Balaesang, Pantai Barat Donggala pada 14 Agustus 1968. Peristiwa yang sama dalam perihal skala: 7,4 Skala Richter. Tsunami menjalar hingga ke Teluk Palu.

Catatan paling baru gempabumi dan tsunami yang terjadi di pesisir pantai barat Donggala adalah pada 1 Januari 1996 di Simuntu-Pangalaseang. Tinggi tsunami mencapai 4 meter dan terjadi penurunan di daratan pantai Desa Siboang, Kecamatan Sojol.

Peristiwa demi peristiwa itu menuntut kita agar bisa hidup harmonis dengan alam. Maksud alam di sana adalah, Palu dan sekitarnya terberi sebuah patahan/sesar yang ketika bergerak melepas energinya lalu memicu gempa, juga tsunami, bahkan likuèfaksi.

Ancaman serius lainnya karena banyak kawasan di Palu muasalnya adalah rawa yang lapisan permukaan tanahnya tebal sedimen, endapannya. Sungai-sungai purba yang diurug waktu dan modernitas.
Sesar Palu Koro!
Harus berapa kali lagi peristiwa agar kita menjadi lebih waspada?

Penulis : Neni Muhidin, penggiat literasi Nemu Buku dan anggota Ekspedisi Palu Koro.
Foto: Peta sejarah gempa (ACT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini