Ribuan Kelas Darurat Dibangun di Sulawesi Tengah

0
149

PALU — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama sejumlah lembaga telah mendirikan 1.123 kelas darurat di Kota Palu dan tiga kabupaten di Provinsi Sulawesi tengah, yang terdampak bencana gempa, tsunami dan likuifaksi.

Tenaga Teknis Kebencanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jamjam Muzakki, mengatakan, pendirian 1.123 kelas darurat itu dilakukan sejak Oktober hingga 15 November 2018. Kemendikbud memprioritaskan kelas darurat bagi sekolah yang ruang kelasnya rusak berat.

“Kelas darurat itu menggunakan tenda maupun bangunan semi permanen seperti dari bambu,” kata dia, dihubungi, Minggu, 25 November 2018.

Hasil verifikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI per 15 November 2018, total ruang kelas yang rusak berat sebanyak 1.997 unit. Angka itu tersebar di 300 sekolah umum dan 70 madrasah.

Rinciannya, di Kota Palu terdapat 677 unit, Kabupaten Donggala 625 unit, Kabupaten Parigi Moutong 83 unit, dan Kabupaten Sigi 612 unit.

Sedangkan ruang kelas yang rusak sedang mencapai 2.276 unit, tersebar di 356 sekolah umum dan 63 madrasah. Untuk ruang kelas yang rusak ringan sebanyak 2.742 di 416 sekolah umum dan 52 madrasah.

Pendirian kelas darurat itu dilakukan Kemendikbud bersama 17 lembaga lain. Antara lain Kementerian Agama, UNICEF, YPII, YSTC, WFI, BNI, Baznas, dan BUMN dan lain-lain. Bersama 17 lembaga ini, kelas darurat yang ditargetkan berdiri yakni 2.712 unit.

Menurut Jamjam, pendirian kelas darurat terkendala dengan terbatasnya jumlah pekerja dan ketersediaan bahan baku bambu. “Sisanya kami targetkan sebelum akhir Desember sudah berdiri,” kata Jamjam.

Salah satu sekolah yang melaksanakan proses belajar-mengajar di tenda adalah SMPN 1 Palu. Sekolah ini memiliki 5 kelas yang rusak berat dari total 35 ruang kelas.

Wakil Kepala Sekolah Bagian Sarana Prasarana SMPN 1 Palu, Meity Soerianto, menjelaskan , kegiatan belajar di tenda tersebut telah berlangsung sebulan pascabencana. Namun pemakaian tenda kurang nyaman karena cukup panas saat siang hari.

Untuk mensiasati kondisi itu, tirai tenda pun dibuka lebar untuk mengurangi hawa panas. “Terkadang pula kegiatan belajar dilangsungkan di bawah pohon atau di teras,” kata Meity.

Selain memakai tenda, sekolah mengurangi jam belajar-mengajar. Bila normalnya satu pelajaran ditempuh 45 menit, saat ini dipersingkat 25 menit. Sehingga jam sekolah yang biasanya berakhir pada pukul 15.00, sekarang selesai pukul 12.00.

“Kami belajar tidak sampai sore karena sebagian orang tua masih khawatir kalau ada bencana lagi,” kata Ashadinda, siswi kelas Sembilan SMPN 1 Palu.

Perubahan lainnya, pihak sekolah meniadakan ekstrakurikuler yang menggunakan fisik dan memberikan pengetahuan mitigasi bencana. Selain itu, sebelum pelajaran dimulai, guru akan memberikan permainan untuk membangkitkan semangat belajar para siswa.

Reporter : Aldrim Thalara
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini