Rezeki dari Wisata Likuifaksi (Bagian 2)

0
147

Beberapa pengungsi di Petobo mencoba mengais rezeki dari banyaknya orang yang mengunjungi kampung di Kecamatan Palu Selatan itu. Mereka menjual nasi kuning, aneka jajanan dan air mineral bagi pengunjung yang mendatangi bekas bencana likuifaksi.

Selain Mila, ada Hatimi yang membuka lapak dagangan. Namun ketiadaan modal, membuat Hatimi hanya menjajakan nasi kuning dan kue milik kerabat dekatnya. Lama kelamaan, keuntungan Rp1.000 dari setiap bungkus nasi membuat tabungannya terus bertambah.

“Lumayanlah untuk bantu-bantu suami,’’ katana.
Suami Hatimi banting setir dari buruh peternak ayam petelur menjadi buruh bangunan. Itu setelah kandang ayam milik majikannya roboh dihantam gempa. Kini suaminya menjadi buruh bangunan di proyek hunian sementara milik salah satu relawan kemanusiaan di Kabupaten Sigi.

Mereka yang datang melihat bekas bencana likuifaksi di Petobo tidak hanya warga Kota Palu. Mereka berasal dari berbagai penjuru Sulawesi Tengah. Ibu Pipa (41), misalnya, ia memboyong 11 anggota keluarganya dari Donggala dengan menyewa pikap untuk mengunjungi lumpur likuifaksi di Petobo.

‘’Sudah lama ingin kesini. Tapi baru sekarang ada kesempatan. Di Gunung Bale, juga ada guncangan gempa. Tapi tidak sekuat ini,’’ katanya ditemui di Petobo, pekan lalu.

Banyak yang seperti ibu Pipa ini. Mereka datang dari Pantai Barat, Kabupaten Tolitoli, Buol hingga Kabupaten Poso dan seterusnya. Bahkan dari Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Jawa.

Hermanto (38), seorang wiraswasta dari Balikpapan menyempatkan datang ke Petobo. Ia bersama tiga rekannya datang ke lokasi bencana, bukan untuk melihat dampak kerusakan.

‘’Fenomena alam ini menjadi media kontemplatif,” katanya.[]

Reporter: Yardin Hasan
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini