Rezeki dari Wisata Likuifaksi (Bagian 1)

0
133

Mila nyaris putus asa menjalani hidup, setelah bencana likuifaksi meluluh-lantakkan satu-satunya rumah milik keluarganya. Padahal di rumah itulah, ia tinggal bersama tiga adiknya. Tidak satupun barang berharga yang bisa ia selamatkan sebagai bekal untuk menyambung hidup.

Bencana itu juga menyebabkan Jalan HM Soeharto, di dekat rumah Mila, mati suri dalam beberapa pekan. Sebab ruas jalan sepanjang 19 kilometer itu, kini tersisa 120 meter setelah dilumat lumpur.

Jalan HM Soeharto adalah nadi perekonomian bagi Mila dan warga Kelurahan Petobo, Palu Selatan, yang berpenduduk 10.410 jiwa. Itu adalah jalur utama yang menghubungkan Kota Palu dengan Kabupaten Sigi. Termasuk akses menuju kawasan wisata alam Kapopo Indah dan Pasar Bulili —pasar tradisional terbesar di kawasan tersebut.

Sebelum bencana, ada banyak toserba, toko sepatu, usaha konveksi, kuliner, bahan kerajinan, dan toko jual beli hasil bumi. Termasuk Mila yang telah empat tahun berjualan lauk pauk dan aneka jenis kue di jalan yang dibangun saat kedatangan Presiden Soeharto tahun 1990 itu.

“Awalnya sempat berpikir tak mungkin berjualan kuliner kembali. Kalaupun harus jualan, ya harus mencari tempat sejauh-jauhnya,” kata perempuan 24 tahun ini.

Namun, Mila mencoba bangkit. Ia melihat peluang ketika Jalan HM Soeharto yang tinggal sepenggal itu didatangi banyak orang. Anak sulung dari empat bersaudara ini pun, memilih melanjutkan hidup dengan menjual nasi bungkus, air mineral dan aneka kue.

Sehari, ia bisa mendapat uang Rp300 ribu – Rp450 ribu. Angka itu cukup memenuhi kebutuhan selama di tenda pengungsian dan ia sisihkan untuk ditabung.

Mila bercerita, ia mulai bersemangat karena hidupnya tidak bisa terus-menerus meratapi musibah. Apalagi sebagai anak sulung, ia merasa perlu berbuat sesuatu, tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk tiga adik dan orangtuanya.

“Bagaimanapun juga roda hidup harus tetap berputar,” katanya tegar.

Puluhan hingga ratusan orang memang berdatangan untuk melihat lokasi bekas bencana likuifaksi di Petobo. Bencana itu menyisakan jutaan ton lumpur kering dan material bangunan.

Reporter: Yardin Hasan
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini