Refleksi Satu Bulan Pascagempa, Likuifaksi dan Tsunami Sulawesi Tengah

0
141

Bertempat di pelataran parkir Aliansi Jurnalis Indepen (AJI) Kota Palu, Sabtu (27/10), diadakan acara diskusi untuk merefleksikan satu bulan pascagempa, likuifaksi, dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi. Hadir sebagai pembicara Dr. Yusuf Surachman Djajadihardja, seorang peneliti senior Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi (BPPT). Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola juga turut hadir dalam acara ini.

Dalam diskusi tersebut, dijelaskan tentang lempeng-lempeng dan patahan-patahan yang ada di Indonesia. Pada tahun 2002, Yusuf mendapat kesempatan untuk meneliti patahan Sumatera yang berada di dasar laut di kedalaman 2.102 meter. Dari hasil observasi, ditemukan bahwa patahan tersebut memanjang hingga ke bagian selatan Jawa Barat.

“Keberadaan patahan inilah yang memunculkan prediksi yang menjadi perdebatan tentang akan adanya gempa besar di wilayah barat Sumatera bhingga ke Jawa, terutama Jakarta. Diperkirakan, kekuatan gempa tersebut mencapai 8 skala richter. Prediksi mengenai kapan terjadinya dan besaran gempa tersebut berdasarkan perhitungan pergerakan lempeng pertahunnya,” jelas Yusuf.

Yusuf menerangkan bahwa gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu akibat aktivitas sesar Palu Koro yang dibangkitkan oleh pergeseran struktur sesar secara mendatar mengiri. Hal tersebut karena patahan yang ada di wilayah Sulawesi adalah patahan geser.

Likuifaksi di Desa Balaroa
Mengenai likuifaksi, Yusuf memaparkan tentang apa yang terjadi di Desa Balaroa. Ketebalan tanah di salah satu titik di wilayah tersebut hanya setebal 5 meter. Di bawahnya terdapat lapisan batu pasir yang berselang-seling antara yang kasar dan halus. Terdapat struktur yang dinamakan struktur akuifer atau struktur batuan yang jenuh terisi oleh air.

“Pada saat terjadi gempa, struktur tersebut akan digoyang hingga lapisan pasir tersebut menjadi lumpur,” kata Yusuf.

Kondisi di Balaroa seperti halnya di Desa Petobo dan Jono Oge yang miring, membuatnya longsor dan seolah-olah meluncur karena ikatan di bawahnya lepas ketika menjadi lumpur.

Proses likuifaksi tersebut diilustrasikan dengan sebuah video yang menunjukkan bagaimana permukaan pasir di pinggir pantai yang semula padat, namun ketika sebuah batang kayu ditancapkan dan kemudian digoyang baik secara vertikal maupun horizontal, permukaan pasir yang semula padat tersebut berubah menjadi lumpur yang sangat gembur dan tidak stabil.

Pengurangan Risiko Bencana
Salah seorang penanya, Neni Muhidin, dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Sulawesi Tengah mengingatkan tentang pentingnya pengurangan risiko bencana karena kita tinggal di wilayah yang rawan risiko bencana.

“Risiko tersebut bisa dihitung. Kita harus tahu ancamannya nyata. Kita harus tahu kerentanan kita, tapi kita juga harus tahu bahwa kita memiliki kapasitas untuk bangkit,” katanya.

Ia juga mengkritisi tentang kebijakan tata ruang di wilayah Sulawesi Tengah, dokumen rencana kontijensi yang tidak diperbaharui, dan kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Diskusi ini ditutup dengan pernyataan dari Gubernur bahwa perubahan tata ruang di Provinsi Sulawesi Tengah sudah direncanakan dengan mempertimbangkan bencana yang sudah terjadi dan juga perencanaan kedepannya. Perencanaan perubahan tata ruang tersebut diupayakan selesai pada bulan Desember tahun ini.

Sumber: Kareba Palu Koro Edisi I (Newsletter terbitan konsorsium ERCB – Emergency Response Capacity Building)
Editor: Firmansyah MS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini