Rano nTiko, Cerita Rakyat Sigi Tentang Liquefaksi

0
418
Keterangan: Peserta pelatihan, membangun konsep kerja rekonstruksi berbasis komunitas pasca-konflik dan pasca bencana di taman megalitik Watunonju

LIQUEFAKSI atau pencairan tanah telah menjadi fenomenal pascabencana yang menerjang Lembah Palu, 28 September 2018 yang lalu. Tradisi Tutur masyarakat Suku Kaili, yang dikenal dengan tradisi No Tutura (bercerita), sebenarnya, telah menggambarkan kisah tentang tanah yang bergerak serta kampung yang tertelan tanah, Atman Givu Lando, Pegiat Budaya di Sanggar Seni dan Budaya Lokal, Lando-Bulili, Sigi, menyebutkan; bahwa Suku Kaili memaknai peristiwa liquefaksi dengan lima sukukata.

“Kami, di Sigi menyebut liquefaksi dengan lima kata, yaitu: Nalonjo artinya tertanam dilumpur(gege), Nalodo artinya tenggelam di air dan hanyut, Napoyo artinya air melewati kepala manusia tengelam, Naombo artinya runtuh, Naduyu artinya tanah/gunung yang bergeser” ucap Atman.

Selain kosakata yang dimaknai sebagai liquefaksi, masyarakat Sigi, juga mengenal Cerita rakyat, yang isinya menggambarkan suatu peristiwa dahulu tentang hilangnya perkampungan karena tertelan tanah.

Idris, tokoh masyarakat Desa Watunonju, menceritakan kisah Rano ntiko, saat menjadi pemandu wisata di hadapan peserta pelatihan, ”Membangun konsep kerja rekonstruksi berbasis komunitas pasca-konflik dan pasca bencana” , di taman megalitik Watunonju, beberapa waktu yang lalu.

Di Sigi ada kisah yang menceritakan tentang tenggelamnya suatu perkampungan. Cerita itu turun temurun disampaikan kepada anak cucu. Judulnya, Rano nTiko. Rano itu dalam bahasa Kaili Ija, artinya Danau. Sedangkan nTiko adalah nama orang. Danau itu sekarang letaknya di Sigi Mpuu. Cerita Rano nTiko menceritakan tentang tanah yang menelan perkampungan. Saat itu Kerajaan Sigi masih berpusat di Sigi Mpuu, nTiko mempunyai gendang bernama Karatu, yang dapat mengeluarkan emas jika dibunyikan.

Tetapi, suatu ketika nTiko membunyikan karatu dengan memukulnya menggunakan paha kucing hitam. Sehingga, terjadilah peristiwa alam, saat itu tanah membalik rumahnya, serta menelan kampungnya. ”Sejak saat itu lokasi tersebut menjadi sebuah danau, yang diberi nama Rano nTiko”, ucap Idris.

Cerita itu menggambarkan peristiwa yang hampir sama dengan apa yang terjadi di Jono Oge tanggal 28 september lalu. ”Itu berarti di Sigi dahulu sudah terjadi peristiwa yang sekarang kita sebut dengan liquefaksi” tutup Idris.***

Penulis: Mohamad Herianto
Foto: Yardin Hasan
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini