Ramadan Berkah Bagi Pengungsi

0
110

PALU – Ramadan membawa berkah bagi penyintas. Di bulan berkah ini banyak warga beramal kepada warga di pengungsian. Seperti yang dilakukan Keluarga Tuti Punu (39) di Kelurahan Balaroa beberapa waktu lalu.

Tuti Punu bersama keluarganya menggelar buka puasa bersama dan membagikan paket bingkisan kepada para tetangganya dulu di Kelurahan Balaroa. Tuti sendiri adalah istri dari mendiang Exsa Firmansyah yang ditemukan meninggal bersama ibunya di kediamannya di Jalan Anyelir – Balaroa, September 2018 silam.

Kini, ibu dua anak tinggal di Surabaya, bekerja di salah satu BUMN di sana. Tuti mengaku, sangat tersentuh menyaksikan kehidupan rekan sejawatnya di pengungsian di Balaroa. Karena itu, memanfaatkan libur lebaran tahun ini, ia bersama dua anaknya menggelar buka puasa bersama dan pembagian bingkisan keperluan sekolah serta bingkisan makanan untuk pengungsi di sana.

Tuti melanjutkan, ia banyak menyimak testimoni dari beberapa keluarga penyintas. Salahsatunya dari salah seorang berhasil selamat bersama anaknya bernama Mentari yang baru berusia 1 bulan saat itu.

Saat lumpur mengangkat dan menenggelamkan mereka, ibu ini bisa menyelamatkan anaknya. Aanaknya, Mentari dimasukkan ke kantong keresek yang dikaitkan di gigi. Sang ibu keluar dengan merangkak dari balik reruntuhan rumah.

Saat keluar dari reruntuhan, ia menyaksikan api berkobar mengepung dari segala arah. Api mulai merembet ke kantong yang berisi anaknya. Seketika ia memasukan bocah yang masih berusia sebulan yang meringkuk di dalam kantong platsik dan memasukannya ke baju dan berlari sekuat tenaga. Hingga akhirnya lolos dari jilatan api. Tubuh yang penuh luka tak dipedulikan lagi hingga akhirnya ibu dan anak ini selamat.

Sayangnya sang kakak hilang tertimbun tanah dan sampai saat ini tak diketemukan. ”Kakaknya lepas dari genggaman. Ia hilang tak ditemukan sampai saat ini,” katanya.

Tuti mengatakan, bingkisan yang diberikan tidak mungkin mengobati kesedihan atas hilangnya orang-orang tersayang. Tapi setidaknya bisa memberikan keringanan bagi kawan-kawannya yang hidup serba terbatas dengan bayang bayang kesedihan yang terus menghantui setiap saat.

Sebagai perempuan yang kehilangan suami di peristiwa itu, Tuti mengaku bisa merasakan suasana kebatinan saudara-saudaranya itu. ”Momentum ramadan mudah mudahan bisa makin menguatkan atas kesedihan atas tragedi itu,” tutupnya. ***

Penulis: Yardin Hasan
Foto: Tuti Punu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini