Puluhan Siswa di Pantoloan Tanam Mangrove

0
1125
TANAM MANGROVE – Puluhan siswa bersama orang tua siswa dan sejumlah stakeholder terkait, melakukan penanaman mangrove di pesisir pantai Kelurahan Pantoloan, Selasa (10/12/2019). (FOTO: JEFRI)

PALU – Puluhan siswa dan orang tua siswa SD Inpres 14 Pantoloan, bersama sejumlah stakeholder seperti KPP Bea Cukai, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Kantor Kesehatan Pelabuhan, Komunitas Mangrovers Kota Palu, serta sejumlah warga, melakukan penanaman mangrove di pesisir pantai Kelurahan Pantoloan, Selasa (10/12/2019).

Penanaman mangrove ini, difasilitasi oleh Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB)-NTT bersama Yayasan Plan International Indonesia.

Para siswa, orang tua siswa, serta sejumlah stakeholder yang terlibat, antusias melakukan penanaman. Para siswa misalnya, setelah mendengar arahan mengenai cara menanam mangrove yang benar, langsung mempraktekkannya masing-masing, di lahan yang sudah disiapkan.

Project Officer PMPB-NTT, Rafael Dael mengatakan, penanaman mangrove ini merupakan bagian dari program PMPB-NTT dan Yayasan Plan International Indonesia (YPII) di wilayah terdampak bencana 28 September di Sulteng. Program ini mencakup 10 sekolah, dengan rincian 5 sekolah di Kota Palu, serta 1 sekolah di Desa Pombewe, dan 5 sekolah di wilayah Kulawi, Kabupaten Sigi.

Adapun program yang dilaksanakan PMPB-NTT dan YPII ini, yakni pembekalan teknik retroffiting atau penguatan struktur bangunan sekolah, serta penguatan kapasitas masyarakat sekolah. Untuk penguatan kapasitas sendiri kata Rafael, pihaknya mencoba menguatkan aspek penanganan resiko bencana (PRB) pada masyarakat sekolah.

“Dengan penanaman mangrove ini, kita mau mengajarkan ke sekolah, bahwa aktivitas ini adalah bagian dari upaya PRB, karena mangrove berfungsi sebagai peredam gelombang dan pencegah abrasi pantai,” ujarnya.
Adapun ide penanaman mangrove ini kata Rafael, berasal dari pihak sekolah, mengingat sekolah tersebut terletak tidak jauh dari bibir pantai dan juga merupakan salah satu sekolah yang terdampak tsunami pada 28 September 2018 lalu. Adapun pihak PMPB-NTT dan YPII, memfasiitasi anakan mangrove, dan fasilitas pendukung lainnya.

Untuk pendampingan sendiri kata Rafael, pihaknya telah melakukan pendampingan sejak Mei 2019 hingga Maret 2020. Jadi kata dia, sebelum pihaknya selesai melakukan pendampingan, pihaknya akan menyerahkan pengawasan mangrove yang ditanami tersebut, kepada pihak sekolah maupun orang tua siswa.

Sementara itu, Relawan Mangrove, Hamzah Tjakunu, yang menjelaskan cara menanam mangrove yang benar kepada para siswa yang hadir mengatakan, upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan dukungan PMPB-NTT dan YPII ini, adalah sebuah hal positif yang perlu dikembangkan. Menurutnya, upaya untuk mencintai lingkungan, harusnya memang ditumbuhkan sejak usia dini.

“Sekarang tinggal bagaimana masyarakat sekolah dan sekitar pantai ini mengawasi pertumbuhan mangrove yang baru ditanam ini. Kalau perlu dibuatkan pagar pembatas agar tidak dirusak oleh ternak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SD Inpres 14 Pantoloan, Murni, mengapresiasi apa yang dilakukan oleh PMPB-NTT dan YPII ini. Menurutnya, hal ini sangat baik sebagai pembelajaran bagi siswa untuk lebih mencintai lingkungan. ***

Penulis   : Jefrianto
Editor     : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini