Petunjuk di Balik Asal-usul Nama Wilayah

0
798

PALU — Peristiwa alam di masa lalu biasanya menjadi ilham asal-usul penamaan lokal suatu wilayah (toponimi). Hal itu bisa memberi petunjuk potensi kebencanaan di masa kini, sebagaimana yang terjadi pada kawasan yang dilanda bencana gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September lalu.

Arkeolog Museum Negeri Sulteng, Iksam, memberi contoh nama Tagari Londjo di sekitar kawasan Balaroa. Londjo artinya tertanam dalam lumpur. Pada bencana 28 September lalu, Balaroa menjadi salah satu daerah yang terbenam lumpur likuefaksi.

Iksam menjelaskan, wilayah-wilayah yang menggunakan kata “salu” perlu diwaspadai dan ditelusuri sejarahnya. Sebab “salu” punya arti sungai kecil yang kering. “Sehingga ada indikasi kawasan itu dulunya merupakan daerah aliran sungai (DAS),” kata Iksam dalam Forum Warga Membaca Bencana yang diinisiasi oleh Posko Relawan Pasigala Tangguh, 6 Desember 2018.

Realitasnya saat ini beberapa pemukiman muncul di sebelah timur Palu yang dibangun di atas atau di sisi “salu”. Contohnya, Salu Bai di Kelurahan Tondo yang merupakan aliran sungai dari Vatutela.

Salu tersebut melewati kawasan sebelum Pergudangan di Layana, memotong jalan Trans Sulawesi dan bermuara di pantai Teluk Palu. Jika hujan turun dengan intensitas tinggi, kawasan jalur salu tersebut pasti tergenang.

Selain istilah “salu”, ada juga istilah “binangga” yang artinya sungai berukuran lebih besar. Penamaan “binangga” ini juga dijadikan nama sebuah desa di Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi.

Kemudian dalam skala besar, dikenal istilah Karona untuk menyebut Sungai Palu.

Wilayah daerah aliran sungai (DAS) memang rawan ditempati. Seperti di tiga kawasan terdampak llkuefaksi yakni Jono Oge, Petobo dan Balaroa yang ternyata bekas daerah DAS purba.

Hal itu, kata Iksam, berdasarkan peta yang dibuat oleh etnolog Albert C Kruyt pada tahun 1916. Jono Oge dulunya merupakan DAS Sungai Paneki, Petobo merupakan DAS Sungai Kapopo atau yang dikenal dengan nama lain yakni Sungai Nggia. Sedangkan Balaroa, khususnya pada kawasan Perumnas, merupakan DAS Sungai Uwe Numpu.

Selain tiga wilayah itu, sebenarnya banyak bangunan perumahan di Palu dan sekitarnya yang dibangun di DAS. “Seperti BTN Puskud di Palupi yang dibangun tepat di DAS,” katanya.

Toponimi yang berasal dari peristiwa alam berikutnya adalah Duyu yang artinya longsor. Nama Tatura kemungkinan berasal dari kata Natura yang artinya turun. Nama Kaombona punya arti runtuh, Tompe artinya terhempas. Sedangkan Jono berasal dari nama sejenis tumbuhan alang-alang yang tumbuh di pinggir sungai.

Dengan demikian, kata Iksam, penamaan-penamaan lokal atau toponimi sangat penting untuk diketahui kembali. Toponimi harus menjadi rujukan dalam membangun kawasan pemukiman di Kota Palu dan sekitarnya di masa kini.

Dia juga meminta pemerintah mengutamakan pelibatan masyarakat dalam penyusunan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), baik kota/kabupaten maupun provinsi. “Termasuk dalam menentukan kategorisasi zonasi kawasan mana saja yang layak untuk ditinggali.”

Penanggung Jawab Posko Relawan Pasigala Tangguh, Nurlalea Lamasitudju mengatakan, masyarakat juga tidak boleh lagi acuh dengan asal usul lahan yang ditempatinya. Sebaliknya harus bersikap proaktif dan adaptif. Dua sikap tersebut menjadi kunci untuk menekan dampak yang ditimbulkan dari bencana.

Penulis: Jefri Anto
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini