Petani Garam Talise, Nasibmu Kini (Bagian 2)

0
120

Petani garam Talise menghadapi tantangan luar biasa untuk bertahan. Sebelum tsunami, pada 2014 misalnya, petani garam terancam dengan proyek reklamasi seluas 38,33 ha. Mereka sempat membuat spanduk berisi penolakan atas proyek reklamasi itu.

Ketua Forum Petambak Garam Talise, Firdaus Barudin, mengatakan, saat ini luas lahan garam tersisa 16 ha dari sebelumnya 18 ha yang dimiliki oleh 163 petani. Bencana tsunami 28 September, mengakibatkan 23 petani garam meninggal dunia. “Kalau ditotal bersama keluarganya, mungkin ada sekitar 50an jiwa meninggal,” kata dia.

Firdaus, mengatakan, Garam Talise menjadi ikon dan primadona di Sulawesi Tengah sejak turun-temurun. Konsumen menyebut jenisnya sebagai garam muda, karena teksturnya lebih lunak dibandingkan garam dari daerah lain. Karena lunak inilah, Garam Talise lebih enak untuk bahan makanan dan pupuk tanaman.

Setelah bencana, Garam Talise kosong di pasaran. Sebab belum ada petani yang berproduksi. Untuk memulihkan petani garam, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah dua kali datang dan bertemu petani. Pemerintah menawarkan untuk mengubah lahan tambak menjadi lebih modern yang dikelola secara kelompok.

Namun tawaran itu belum menemukan titik temu. “Sebagian petani menolak karena hak miliknya hilang saat tambak dikelola secara kolektif,” kata Firdaus.

Menurutnya, saat ini petani lebih mengharapkan pemerintah memberikan bantuan tenaga pekerja untuk membersihkan dan memperbaiki lahan garam secara tradisional.

Garam Asal Makassar
“Beli garam Talise buat oleh-oleh….”
Dengan suara nyaring, Nurlaila berulangkali menawarkan garam kepada setiap pengendara yang lewat. Ada yang berhenti untuk membeli, tapi lebih banyak yang mengabaikan suaranya untuk melanjutkan perjalanan.

Sejak pukul 14.00, Nurlaila duduk di kursi plastik, di tepi Jalan Penggaraman, Kelurahan Talise. Jalan ini menghubungkan Kota Palu dengan Kabupaten Donggala, berada sekitar 500 meter dari Teluk Palu. Nurlaila meletakkan dua karung berisi penuh dengan garam di depannya. Satu berwarna putih, satu karung lainnya berwarna kecoklatan. Satu karung masing-masing berisi 50 kg.

Garam putih ia banderol seharga Rp 15 ribu per gayung. Di beberapa kampung di Sulawesi Tengah, garam putih itu biasa dipakai untuk makan. Konon cukup nikmat apabila dicampur dengan nasi. Sedangkan yang berwarna kecoklatan, lazim dipakai untuk pupuk dan obat. Harganya lebih murah, Rp 10 ribu per gayung.

Kepada pembelinya, Nurlaila memang selalu menyebut itu Garam Talise —nama garam yang dihasilkan di pesisir Pantai Talise dan cukup populer sebagai oleh-oleh khas Kota Palu. Padahal, aslinya, garam itu didatangkan dari Makassar, Sulawesi Selatan.

“Sejak bencana tidak ada yang produksi garam Talise,” kata perempuan, 41 tahun itu, pekan lalu.

Berjualan garam baru dilakoni Nurlaila sebulan setelah bencana. Ia menggantikan ibunya yang meninggal karena dihantam tsunami. Rumah keluarga Nurlaila di kawasan pantai, menjadi salah satu lokasi yang diterjang tsunami 28 September lalu.

Sebelum bencana, Nurlaila mendapat penghasilan dari usaha kafe di Pantai Talise. Sehari-hari ia berjualan ikan bakar dan berbagai minuman. Tapi, terjangan tsunami membuat kafenya terlibas. “Ingin buka kafe lagi tapi tak tahu modal dari mana,” katanya.

Tak ada penghasilan, membuatnya kelimpungan. Sebab keluarganya harus makan dan membiayai sekolah satu dari empat anaknya. Suaminya pun belum mendapatkan pekerjaan.

Harapannya kemudian hanya bergantung pada garam. Nurlaila tahu persis, ibunya punya banyak langganan saat berdagang garam di ruas Jalan Penggaraman. Karena belum ada petambak Talise yang berproduksi, Nurlaila terpaksa memasok garam dari Makassar.

Nurlaila adalah salah satu yang berjualan garam paling awal setelah bencana. Beberapa pekan kemudian, pedagang garam lain mengikuti langkahnya untuk kembali berjualan. Kini, ada sekitar 12 pedagang garam yang berjejer di Jalan Penggaraman.

Makin banyak pedagang, akhirnya mempengaruhi penjualan Nurlaila. Bila sebelumnya, garam yang ia jual lebih cepat ludes, saat ini hanya laku antara satu hingga empat gayung.

“Tapi lumayanlah sudah ada penghasilan lagi. Bisa memberi uang saku untuk anak yang sekolah,” kata ibu empat anak ini.

Jumlah pedagang garam sebelum bencana bisa mencapai 20an orang. Para pedagang inilah yang membeli hasil panen dari petambak garam di Pantai Talise dan menjualnya langsung ke konsumen di pinggir jalan.

Selain melayani eceran, pedagang itu punya langganan khusus yang datang untuk membeli garam dalam jumlah besar. Dari sinilah garam Talise kemudian terdistribusi ke beberapa kabupaten lain

Rukka, memilih jalan yang sama dengan Nurlaila. Sejatinya ia memiliki tiga tambak garam di Talise. Tapi tsunami membuat tambaknya rusak dan penuh dengan lumpur serta kotoran.

Rukka bercerita, ia tak mampu membersihkan lahan garam itu. Sebab usianya telah 60 tahun. Sedangkan suaminya lama meninggal karena sakit. Untuk mempekerjakan orang lain pun, ia tak punya ongkos untuk memberi upah. “Sementara saya jualan dulu untuk hidup,” katanya sambil menanti pembeli datang.

Penulis: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini