Petani Garam Talise, Nasibmu Kini (Bagian 1)

0
186

Sore sejenak lagi akan berlalu. Tapi, Sandi masih bertahan di sepetak tambak garamnya di pesisir Pantai Talise. Sejak pagi ia berkutat di tambak berukuran 6×9 meter itu, membersihkan lumpur tebal berwarna hitam pekat dengan cangkulnya.

Lumpur tebal itu membuat Sandi sudah dua bulan ini tak bisa memproduksi garam. “Saya bersihkan pelan-pelan, biar bisa membuat garam lagi,” kata Sandi sore itu awal Desember 2018.

Sandi memiliki tiga tambak garam, warisan dari kakek dan orangtuanya. Kini, tambak miliknya dan belasan hektar milik petani lainnya rusak setelah diterjang tsunami dari Teluk Palu pada 28 September lalu.

Selain lumpur, tsunami menyisakan banyak potongan kayu, reruntuhan tembok dan perkakas rumah. “Bahkan dulu banyak sepeda motor dan mobil yang terbenam di sini,” kata pria kelahiran 1972 itu.

Dari satu tambak, Sandi biasanya memanen 2 ton garam per bulan sepanjang musim kemarau. Selain sebagai petani, dia juga berdagang dengan membeli garam dari petani lainnya, lalu ia jual ke luar Kota Palu.

Tidak hanya ke luar kota, banyak pedagang yang membuka lapaknya di dekat lahan garam atau di pantai. Harga garam terendah dari petani yakni Rp 2 ribu per kilogram. Karena diproduksi di Talise, maka garam mereka pun disebut Garam Talise.

Ingatan Sandi berputar sebelum bencana terjadi. Saat itu dia bersama petani lainnya sedang menikmati masa panen garam. Sandi beruntung pulang lebih awal, setelah memasukkan berkilo-kilo garam ke dalam karung.

Setelah menyimpan garam di dalam rumah, gempa lalu mengguncang keras, disusul tsunami menerjang hingga ke kampungnya di dekat pesisir. Sandi selamat dari bencana itu bersama keluarganya. Tapi tidak dengan garam sebagai sumber penghasilannya.

Sandi bercerita, 40 karung berisi 20 ton garam di dalam rumahnya rusak karena tsunami itu. Padahal garam-garam itu adalah pesanan langganannya asal Poso dan Parigi Mautong.

Ia juga teringat ada banyak petani garam yang meninggal dunia, karena sedang berada di tambak ketika bencana datang. “Seandainya saya belum selesai panen, muntkin nasib saya juga sama,” katanya berduka.

Trauma mendalam itu yang membuat banyak petani garam belum sepenuhnya bangkit. Penulis hanya menyaksikan sekitar 5 petani yang sedang membersihkan lahan seperti Sandi. Agar bisa mendapatkan penghasilan, Sandi pun membeli garam dari Makassar. Garam-garam itu yang ia jual di pinggir Jalan Penggaraman.

Sandi tidak tahu kapan akan memproduksi Garam Talise kembali. Sebab baru satu tambak dari dua tambak lainnya yang baru ia bersihkan. Di sisi lain, garam hanya bisa diproduksi saat musim kemarau.

“Sementara sekarang sudah masuk musim hujan,” katanya.

Dari Reklamasi hingga Tsunami
Garam Talise terkenal sejak era kolonial Belanda. Bahkan pada abad ke-20, Garam Talise menjadi komoditas utama di Palu yang dikirim rutin ke luar pulau seperti Surabaya.

Menurut catatan Idrus A. Rore yang dikutip oleh Jefrianto, anggota Komunitas Historia Sulawesi Tengah, di era Belanda ada dua tempat produksi garam di Palu yaitu di Limbou (Talise) dan Tonggo (Silae). Di antara keduanya, Talise adalah yang paling produktif.

Selama periode 1921-1925, tulis Jefri, Limbou berhasil memproduksi garam masing-masing; 7.229 pikul, 14.007 pikul, 14.941 pikul 5.825 dan 10.572 pikul. Namun dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 15 Pebruari 1933 usaha garam Talise diambil-alih oleh pemerintah dan kemudian dihentikan. Para pembuat garam menerima ganti rugi dengan hasil bruto selama lima tahun.

“Setelah kemerdekaan, usaha garam mengalami perkembangan sehingga dapat mencukupi kebutuhan lokal dan sekitar lembah Palu,” tulis Jefri mengutip Idrus A. Rore dalam Sistem Sosial dan Peranan Ekonomi Kota Palu. (Bersambung)

Penulis: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini