Peta Zona Ruang Rawan Bencana Sulteng Ditetapkan

0
201

PALU — Pemerintah telah menetapkan Peta Zona Ruang Rawan Bencana (ZRB) Sulawesi Tengah, Kamis, 20 Desember 2018. Peta itu akan menjadi rujukan untuk merevisi peraturan daerah tentang rencana tata ruang dan wilayah (RT/RW) di masing-masing daerah terdampak bencana.

Penetapan peta ZRB itu ditandatangani oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Pemerintah Kota Palu, Pemkab Sigi dan Pemkab Donggala di ruang kerja Gubernur Sulteng. Acara itu disaksikan oleh Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Abdul Kamarzuki dan Direktur Jenderal Bina Kontruksi Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Syarif Burhanuddin.

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, mengatakan, penandatangan Peta ZRB itu sebelumnya dilakukan di Istana Wakil Presiden pada 12 Desember 2018. Dia meminta pemerintah daerah mensosialisasikan peta itu agar ke depannya masyarakat lebih bersahabat dengan bencana.

“Kalau kita tidak sosialisasikan kajian ini nantinya kalau terjadi bencana, pemerintah lagi yang disalahkan,” kata Gubernur Sulteng, Longki Djanggola dalam siaran pers yang diterima Kabar Sulteng Bangkit, Kamis 20 Desember.

Dalam siaran pers Humas Pemprov 12 Desember 2018, dijelaskan, Peta ZRB Palu dibagi atas 4 Zona. Yakni zona terlarang (ZRB4) berwarna merah, zona terbatas (ZRB3) yang berwarna kuning tua atau oranye, zona bersyarat (ZRB2) yang berwarna kuning, dan zona pengembangan (ZRB1) berwarna kuning muda.

Untuk zona merah (zona terlarang) yaitu zona likuefaksi masif pascagempa, seperti kawasan Petobo, Balaroa, Jono Oge, dan Sibalaya. Selain itu juga termasuk kawasan sempadan pantai rawan tsunami, sempadan patahan aktif Palu-Koro dalam jarak 0-10 meter dan zona rawan gerakan tanah tinggi.

Zona kuning tua (zona terbatas) didefenisikan untuk Zona sempadan aktif Palu-Koro dalam jarak 10-50m, rawan likuifaksi sangat tinggi, zona rawan tsunami tinggi di luar sempadan pantai, dan zona gerakan tanah tinggi.

Zona kuning atau bersayarat meliputi zona rawan likuifaksi tinggi, zona rawan tsunami menengah, zona rawan gerakan tanah menengah dan zona rawan banjir tinggi.

Sedangkan zona kuning muda (zona pengembangan) meliputi zona rawan likuefaksi sedang, zona rawan tsunami rendah, zona rawan gerakan tanah sangat rendah, dan zona rawan banjir menengah dan tinggi.

Namun untuk keseluruhan zona tersebut dinyatakan sebagai zona rawan gempa bumi tinggi.

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Sulawesi Tengah, Syaifullah Djafar, mengatakan, bahwa Peta Zona Rawan Bencana akan ditindaklanjuti dengan pengajuan perubahan perda RT/RW di Provinsi Sulawesi Tengah dan perubahan detail tata ruang Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong.

Penulis: Ika Ningtyas
Foto peta: Istimewa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini