Pertemuan La Nina dan MJO di Indonesia, Sulteng Waspada Banjir dan Longsor

0
202
FENOMENA LA NINA - Koordinator Analisa dan Pengelola Data BMKG Bandar Udara Mutiara Sis Aljufrie Palu, Affan Nugraha Diharsya menunjukkan pertemuan fenomena la nina dan MJO di Indonesia. (Foto: Kristina Natalia)

PALU – Fenomena la nina diprakirakan akan terjadi pada Desember 2020 hingga Februari 2021. Fenomena yang diakibatkan masuknya dorongan udara dingin dari Samudera Pasifik masuk ke wilayah Indonesia ini berdampak buruk bagi wilayah Sulawesi Tengah yang memasuki musim penghujan. Dampak besarnya akan terjadi banjir dan longsor.

Soal bahayanya, BMKG menyebutkan hal itu tergantung karakteristik kebencanaan suatu wilayah atau historis kebencanaan daerah.

Koordinator Analisa dan Pengelola Data BMKG Bandar Udara Mutiara Sis Aljufrie Palu, Affan Nugraha Diharsya menyebutkan selain la nina, Indonesia juga dilanda fenomena Madden Julian Oscillatiol (MJO).

Dijelaskannya, la nina datang dari arah timur Indonesia sedangkan MJO dari arah barat dan bertemu di Indonesia. Dari BMKG pusat, fenomena la nina diprediksi akan berakhir Mei 2021. “Kalau di Sulteng prediksinya sampai Februari 2021. Kalau sekarang level kekuatan la nina masih sedang,” ungkap Affan, Selasa (20/10).

Lanjut Affan, pertemuan la nina dan MJO akan menimbulkan hujan deras disertai angin kencang dan petir.
Daerah yang paling berdampak sesuai dengan karakteristik kebencanaan yakni Kabupaten Sigi, Donggala bagian Utara dan Selatan. “Untuk kabupaten lainnya juga terindikasi terjadinya banjir dan longsor,” ucapnya.

Kata Affan, banjir yang terjadi bukan hanya disebabkan luapan air sungai, melainkan adanya banjir tahunan. Artinya setiap tahun daerah tersebut akan dilanda banjir. “Buol dan Tolitoli mendominasi banjir tahunan, Parimo dan Poso banjir bandang, Touna indikasi banjir dari air laut atau rob, Morowali dan Morowali Utara banjir karena meluapnya air sungai pasca hujan,” rinci Affan.

Affan menambahkan, dampak pertemuan la nina dan MJO untuk Kabupaten Banggai Laut dan Banggai Kepulauan yakni gelombang tinggi. BMKG memprakirakan gelombang air laut akan mencapai 1 sampai 2 meter dan maksimal 3 sampai 4 meter. “Paling 1 sampai 2 meter, kalau untuk nelayan yang menggunakan perahu tradisional sebaiknya tidak melaut karena berbahaya,” ujarnya.

Untuk wilayah Kota Palu sendiri, Affan mengatakan akan terjadi banjir dengan wilayah kerawanannya adalah Kecamatan Palu Barat. Hal yang paling dikuatirkan pada puncak la nina yakni pengulangan peristiwa banjir 25 tahun. “Ada beberapa titik aliran sungai di bagian barat, sedangkan di wilayah lain juga tetap waspada karena sudah terjadi banjir kecil,” terang Affan.

Penulis : Kristina Natalia
Editor   :  Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini