Perlu Kombinasi Mangrove dan Tanggul

0
170

PALU – Forum libu Ntodea yang berlangsung belum lama ini memunculkan berbagai ide dan gagasan dari para ahli dan pakar terkait pengurangan resiko bencana tsunami di pesisir Teluk Palu. Diskusi tentang mana yang lebih pantas menahan gelombang tsunami. Forum Libu Ntode adalah forum diskusi yang rutin digelar Pemkot Palu dengan melibatkan para pihak, membahas berbagai hal soal perkembangan kota.

Apakah tanggul beton yang rencananya akan dibangun dengan pinjaman Jepang. Atau berupaya mengembalikan ekosistem tanaman mangrove.

Dari diskusi muncul beberapa gagasan tengah. Yaitu mengombinasikan antara tanggul beton dan tanaman mangrove.

Terlebih sejumlah penelitian menegaskan tidak semua kawasan pesisir Teluk Palu bisa ditanami mangrove.

Ide ini disuarakan Wakil Rektor IAIN, Abidin Djaraf setelah mendengar informasi bahwa tidak semua wilayah pesisir bisa ditanami mangrove.

Di sisi lain, pembangunan tanggul bukanlah pilihan yang tepat terlebih adanya penolakan dari kelompok masyarakat.

Karena itu menurutnya jalan tengah adalah mengombinasikan keduanya dalam mitigasi pengurangan resiko bencana sunami.

“Tapi intinya harus lakukan reset dan kajian dari kedua pilihan tersebut,”katanya.

Bahkan bila perlu, Abidin mengajak masyarakat Palu khususnya yang berkepentingan dalam dikotomi tanggul dan mangrove itu melaksanakan salat istikharah untuk menentukan pilihan yang paling tepat.

Pakar sejarah Andi Actho dalam forum itu menyebut sepengetahuan dia di Kelurahan Lere tidak pernah ditumbuhi mangrove. Yang ada justru di sekitar pantai Kelurahan Siale. Itupun nanti ditanam antara rentan waktu 1930 sampai 1938 atau persis setelah gempa dan tsunami tahun 1927.

Tsunami di Palu menurutnya pun tidak merata. Ada pemukiman warga di pesisir yang sama sekali tidak terdampak.

“Contohnya di Loli Oge tidak dikena sunami. Mamboro lama dan baru juga demikian. Yang lama itu aman dan baru yang terkena,”ujarnya.

Artinya kata dia, mangrove bisa menjadi pilihan sesuai dengan kecocokan wilayah. Untuk Palu perlu mencoba mangrove endemik. Karena magrove impor pernah gagal dicoba di pesisir Palu.

Lala, warga Kelurahan Tippo menanggapi adanya petisi penolakan tanggul yang kini menembus 5.000 orang. Menurut dia apakah petisi itu mewakili semua masyarakat Palu utamanya yang terdampak di pesisir.

Soal riwayat mangrove, Lala menyebut dari tiga kelurahan yakni Tipo, Silae dan Lere, mangrove hanya pernah tumbuh di wilayah Silae.

“Untuk itu, jika pilihannya mangrove maka kami warga Tipo akan menolak. Karena sudah pernah kami lakukan tapi tidak berhasil,”ujarnya.

Sebaliknya lebih mendukung jika penahan gelombang tsunami dibuat dengan membangun tanggul beton.

“Ambil contoh sungai Palu yang ditahan dengan tembok. Kalau hanya mangrove itu akan butuh waktu lama,”katanya.

Kepala Bappeda Palu, Arfan menyebut, semua rencana pembangunan tanggul saat ini sedang dikaji bersama. Wali Kota menurut dia baru sebatas memberi persetujuan tentang kajian.

Dia menuturkan, pilihan alternatif selain tanggul masih bisa diakomodir.

Namun pilihan mengenai adanya kombinasi antara tanggul dan mangrove sebenarnya sudah ada dalam perencnana pihak JICA Jepang.

“Bahkan pilihan untuk menggunakan batu gajah juga ada dalam perencaan pihak JICA,”jelasnya.***

Penulis: Hamdi Anwar
Foto: Yardin Hasan
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini