Peringatan Dini Tsunami Hendaknya Berbasis Kearifan Lokal

0
149

PALU – Sistem peringatan dini tsunami hendaknya berbasis kearifan lokal yang ada di masyarakat, khususnya pedesaan yang nilai-nilai kelokalannya masih terjaga.

Wacana tersebut mengemuka dalam workshop persiapan penelitian berjudul Last Mile of The Indonesian Tsunami Warning System, yang dilakukan UNISDR, IOC-UNESCO (IOTIC-BMKG Programme Office) bekerja sama dengan Universitas Tadulako (Untad), yang digelar di Ruang Senat Fakultas Teknik Untad, Selasa (18/12/2018).

Workshop tersebut menghadirkan pihak peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), akademisi lintas keilmuan di Untad, pihak BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, kalangan jurnalis, pemerhati isu kebencanaan dan komunitas masyarakat sipil.

Dekan Fakultas Teknik Untad, Prof. Dr. Amar, mengatakan, saat ini perlu ada penelitian terbaru tentang tsunami, khususnya yang terjadi di Teluk Palu dalam menentukan sistem peringatan dini. Kemudian dan distribusi informasi harus melibatkan masyarakat dan menggali nilai-nilai kearifan lokal.

“Distribusi informasi sistem peringatan dini tsunami tidak lagi harus bersifat top-down,” kata Amar.

Akademisi Fakultas Teknik Untad, Alamsyah Palenga, juga menegaskan, harus ada penelitian menyeluruh tentang penyebab terjadinya tsunami di Teluk Palu. Untuk mendukung penelitian itu, pemerintah harus berani menginvestasikan alat-alat untuk mendukung penelitian.

Irina Rafliana dari LIPI menjelaskan, workshop yang digelar lembaganya bertujuan memperoleh informasi atas situasi terkini penyintas bencana Tsunami di Sulawesi Tengah. Khususnya terkait dengan kesiapan penyediaan penerimaan dan penggunaan informasi peringatan dini tsunami.

Pengalaman peserta dalam workshop tersebut akan menjadi bahan untuk memberikan masukan draft Peraturan Presiden tentang Sistem Peringatan Dini Tsunami. Selain itu, workshop tersebut juga mendorong agar pemerintah lebih memperhatikan nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat.

“Khususnya terkait mitigasi bencana agar dapat dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran,” kata Irina.[]

Penulis: Jefri Anto
Foto: bmkg.go.id
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini