Perekonomian Kota Palu Terus Membaik, Deflasi 0,45 Persen

0
132

PALU – Perekonomian Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu terus membaik pasca bencana enam bulan yang lalu. Badan Pisat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat, selama Maret 2019, Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,45 persen yang dipengaruhi oleh penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan dan kelompok kesehatan masing�masing sebesar 4,59 persen dan 0,25 persen.

Hal itu dikatakan Kepala BPS Sulawesi Tengah Faizal Anwar pada rilis bulanan perekonomiam Sulawesi Tengah di Kantor BPS Sulteng, Senin, 1 April 2019.

Menurut Faizal, selain itu dipengaruhi juga oleh kenaikan indeks harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (2,48 persen), sandang (0,41 persen), perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,07 persen), serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,01 persen). Pada periode yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 5,59 persen.

“Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 9,19 persen, sedangkan kelompok sandang mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 1,28 persen,” kata Faizal.

Menurut Faizal, deflasi Kota Palu sebesar 0,45 persen disumbangkan oleh andil negatif kelompok pengeluaran bahan makanan dan kesehatan masing-masing sebesar 0,93 persen dan 0,01 persen. Sementara kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan menyumbangkan andil sebesar 0,45 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,02 persen, kelompok sandang sebesar 0,02 persen, serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan andil di bawah 0,01 persen.

Lanjut Faizal, beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain tarif angkutan udara (0,45 persen), cabai rawit (0,04 persen), ikan teri (0,03 persen), ayam hidup (0,03 persen), keramik (0,02 persen), bawang merah (0,01 persen), nangka muda (0,01 persen), seng (0,01 persen), sabun detergen (0,01 persen) dan kacang panjang (0,01 persen).

“Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan selar (0,26 persen), ikan ekor kuning (0,16 persen), ikan layang (0,14 persen), ikan cakalang (0,09 persen), ikan mujair (0,07 persen), jeruk nipis (0,06 persen), telur ayam ras (0,04 persen), kangkung (0,04 persen), tomat buah (0,04 persen), dan beras (0,04 persen),” kata Faizal.

Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 51 kota mengalami inflasi dan 31 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 0,86 persen dan terendah di Kota Bekasi dan Tangerang sebesar 0,01 persen.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 3,03 persen dan terendah di Kota Palembang sebesar 0,01 persen. Kota Palu menempati peringkat ke-8 deflasi
tertinggi nasional dan ke-4 di kawasan Sulampua.

Penurunan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok kesehatan masing-masing sebesar 4,59 persen dan 0,25 persen. Pada saat yang sama kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (2,48 persen), sandang (0,41 persen), perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,07 persen), serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,01 persen). Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga selama Maret 2019 relatif stabil.

Laju inflasi tahun kalender bulan Maret 2019 sebesar -0,53 persen, dan inflasi year on year (Maret 2019 terhadap Maret 2018) tercatat sebesar 5,59 persen.

Repoter : Pataruddin
Foto : Humas BPS Sulteng

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini