Perahu Berkualitas Nelayan Kampung Lere

0
164

PALU – Kampung Lere seolah tidak membosankan untuk dikunjungi. Sehabis subuh, kampung ini sudah sibuk. Para nelayan baru pulang melaut, anggota keluarga menyambut, menghitung jumlah ikan dan siap-siap memasarkannya.

Wajah lelah berganti cerah, hasil ikan melimpah. Gelombang air yang cukup bersahabat membuat para nelayan mendapatkan tangkapan yang cukup bagus.

Kontras, di belakang para nelayan yang sedang beraktivitas adalah Masjid Arqam Bab Al Rahman yang terapung hampir runtuh karena terjangan tsunami pada 28 September 2018 lalu.

Ya, Kampung Lere yang terletak di Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah adalah wilayah terdampak cukup parah oleh bencana gempa dan tsunami.

Kareba Palu Koro mendatangi sebuah bekas bangunan yang sudah rusak, yang dimanfaatkan para nelayan tersebut untuk menimbang hasil tangkapan. Cukup banyak terlihat hasil tangkapan yang ditimbang. Ada beberapa buah kotak terbuat dari styrofoam yang terisi penuh ikan layur.

Di tempat itu, kami bertemu Dedi koordinator para nelayan di Lere. Ia menampung semua ikan hasil tangkapan tersebut lalu disalurkan ke pengusaha di Makassar.

“Akhir-akhir ini bagus hasil tangkapannya. Itu sudah berapa kotak isi penuh semua,” kata Dedi.

“Ikan-ikan ini seharga tiga puluh ribu rupiah per kilo. Saya koordinir di sini untuk kemudian dikirim ke Makassar,” tambahnya.

Hal tersebut menurutnya untuk menghindari adanya tengkulak. Para nelayan langsung menerima uang dari hasil tangkapannya dan kemudian ikan-ikan tersebut dikirim ke gudang di Kawasan Industri Makassar (KIMA).

Dari KIMA tersebut kata dia, kemudian dikirim ke beberapa kota di Pulau Jawa.

Ketika disinggung soal kondisi sebelum dan sesudah bencana 28 September 2018, Dedi mengatakan memang kejadian bencana saat itu sangat berdampak pada warga masyarakat di Kampung Lere.

“Namun Allah Maha Adil, begitu kami bisa melaut kembali sekitar bulan Desember, hasil tangkapannya luar biasa. Banyak dan besar-besar,” terangnya.

“Mungkin pengaruh beberapa bulan tidak ada nelayan yang melaut,” tambahnya.

Untuk kembali melaut para nelayan tersebut memperbaiki perahu yang masih bisa diperbaiki, kemudian mereka gunakan secara bergantian. Perihal perahu-perahu bantuan dari pemerintah, Dedi dan para nelayan di Kampung Lere mengaku kecewa.

“Kualitas perahunya tidak bagus,” tambah Dedi dengan raut wajah kecewa.

Ia menguraikan, bantuan-bantuan perahu dari sumbangan pribadi maupun lembaga-lembaga non-pemerintah, meskipun sedikit jumlahnya namun bisa dimanfaatkan para nelayan hingga sekarang.

Untuk saat ini lanjut dia, bantuan perahu masih diharapkan oleh warga Kampung Lere karena banyak perahu nelayan yang rusak akibat tsunami.

“Pemberian bantuan seharusnya tidak semata-mata jumlah yang menjadi tolok ukur, walaupun memang hal tersebut menjadi salah satu yang diperhitungkan. Namun, melakukan kajian yang mendalam akan menghasilkan data yang akurat terkait bantuan apa yang dibutuhkan oleh warga terdampak di suatu wilayah,” ucapnya.

Selain itu, ketika menyeleksi dan melakukan pengadaan atas barang-barang yang akan diserahkan sebagai bantuan tersebut, sebaiknya pula menilik kualitasnya.

“Jangan sampai yang kita berikan bisa digunakan namun tidak bertahan lama atau malah tidak bisa digunakan sama sekali, seperti halnya bantuan perahu di Kampung Lere.” Tandasnya. (mdk)

Sumber artikel dan foto:
Buletin Emergency Response Capacity Building (ERCB)
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini