Penyintas Perempuan yang Bangkit dengan Usaha Rumahan

0
371

PALU – Gerai Perempuan Bercerita menjual berbagai produk penganan olahan industri rumahan, mulai dari keripik pisang, sukun, stik labu, kue kenari dan kacang-kacangan. Semua produk rumahan ini dibuat oleh penyintas perempuan yang tergabung dalam Kelompok Ekonomi Perempuan (KEP).

Kelompok ekonomi perempuan ini, merupakan salah satu kelompok binaan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK). Oleh YSKK, para penyintas ini di berikan, pendampingan, pelatihan, pembinaan, hingga proses pemasaran produk usaha rumah tangga yang dihasilkan.

Siti Mutmainah, yang tergabung dalam KEP Barokah, Kelurahan Layana Indah, mengungkapkan, sebelum membuat olahan produk rumahan, dirinya bersama teman sekelompoknya terlebih dahulu, difasilitasi oleh YSKK untuk mendapat pelatihan ke Kota Solo.

Di Solo, mereka kemudian diminta memilih jenis usaha apa yang cocok yang dapat diterapkan dan dikembangkan di daerah masing-masing. Lalu, kata Siti, kelompoknya memilih pembuatan kue rol kelor, dengan alasan bahan baku kelor banyak tersedia di daerah tempat tinggalnya.

Selain mendapat pelatihan, lanjut Siti, kelompoknya diberikan pendampingan oleh YSKK hingga ke tahap pemasaran hasil olahan produk. “Alhamdulillah kami sudah bisa mendapatkan hasilnya. Tadi saja, kita mendapat pesanan dari Kota Makassar,” ujarnya sambil tersenyum.

Siti bukan satu-satunya, penyintas perempuan yang mendapatkan pelatihan dari YSKK, Febriana warga Kelurahan Tawaeli, anggota Kelompok Mandiri, juga mengaku telah diberikan pelatihan yakni membuat olahan penganan kripik pisang, sukun, stiek labu, kue kenari dan kacang-kacangan.

Menurutnya apa yang dilakukan YSKK sangat berguna bagi mereka para kaum perempuan. Sebelumnya, ia hanya menggantungkan hidupnya dari pendapatan suami. Tapi sekarang, ia bisa menghasilkan uang sendiri dari produk rumahan.

“Syukur Alhamdulillah saya sekarang sudah bisa mencari tambahan, untuk menopang perekonomian keluarga,” terangnya.

Koordinator Proyek YSKK, Iwan Setiyoko menjelaskan, pada proses percepatan pemulihan di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) pascabencana, pihaknya mengambil peran pada pemberdayaan ekonomi perempuan penyintas melalui usaha produk rumahan.

“Salah satu yang kami lakukan yaitu, memberikan peningkatan ekonomi dan kemandirian bagi penyintas perempuan,” ujarnya.

Hingga saat ini, sebanyak 556 perempuan yang telah menjadi pelaku usaha mikro, 20 kelompok ekonomi perempuan yang telah terbentuk dan tersebar di sembilan desa dan delapan kecamatan.

Kata Iwan, kelompok perempuan menjadi target YSKK dalam pemberdayaan, karena, perempuan merupakan kelompok yang paling cepat mandiri dan bangkit.

Menurut Iwan, semua produk yang dihasilkan kelompok ekonomi perempuan ini dipasarkan melalui Gerai Perempuan Bercerita yang terletak di Jalan Jabal Nur, Kelurahan Talise, Kota Palu.

Berdirinya Gerai Perempuan Bercerita ini, diinisiasi oleh YSKK bersama dengan Komunitas Perempuan Penyintas Bencana Pasigala, dan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kualitas Keluarga DP3A Kota Palu.

“Nama Gerai Perempuan Bercerita ini mempunyai makna : perempuan bisa bercerita melalui produk mereka,” terangnya.

Lanjut dia, gerai ini menjadi salah satu pusat pemasaran produk-produk unggulan dari kelompok dampingan dan juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan penyintas bencana Pasigala.

Dalam pelaksanakan program ‘Sulawesi Early Recovery Phase’ – Livelihood for Women (Young Women and Mothers) in Micro Enterprises’ YSKK mendapat dukungan dana dari Child Fund International dan AKH Germany.

Hingga saat ini, kata Iwan, sebanyak 20 kelompok ekonomi perempuan binaan YSKK telah mengembangkan beragam produk penganan olahan industri rumah tangga.

Senada dengan Iwan, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kualitas Keluarga, DP3A Kota Palu, Dewi Sartika mengatakan, selain menjadi salah satu pusat pemasaran produk-produk unggulan dari kelompok dampingan, gerai ini juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan penyintas bencana Pasigala.

Ia mengakui, hasil olahan KEP ini masih jauh dari sempurna, karena mereka belum memiliki serifikat PIRT. “Saya kira ini, menjadi perhatian kita semua, terutama yang belum mengambil bagian dalam pemberdayaan ini, mungkin bisa memberikan solusinya,” ujarnya.

Sebagai informasi, kelompok ekonomi perempuan yang telah menjadi pelaku usaha mikro binaan YSKK di Kota Palu, sebanyak 64 perempuan tersebar di Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli, 27 orang di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, 87 orang di Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore.

Sedangkan untuk Kabupaten Sigi, tersebar di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru sebanyak 53 perempuan, 52 orang di Desa Sibalaya Barat, Kecamatan Tanambulava, 61 orang di Desa Sambo, Kecamatan Dolo Selatan.

Sementara untuk Kabupaten Donggala, penyebarannya ada di Desa Lende Tovea, Kecamatan Sirenja sebanyak 102 perempuan, 60 orang di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja dan sebanyak 50 perempuan di Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah.

YSKK berharap, apa yang menjadi tema percepatan pemulihan Pasigala yakni “Berkarya dengan inovasi, berdaya untuk mandiri” bisa tercapai. Keberadaan gerai perempuan bercerita ini diharapkan jadi langkah kecil menuju kemandirian khususnya bidang ekonomi para perempuan penyintas di Pasigala.

Reporter : Irwan K Basir
Editor : Sarifah Latowa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini