Penyintas Duyu, Menabung Emas Dengan Sampah Plastik

0
532

SEORANG wanita paruh baya dan ibu muda sedang asyik bercengkrama di bawah pohon rindang di Jalan Lingkar Stadion Gawalise, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Mereka adalah Suriyah (68) dan Dinar (30).

Di hadapan mereka ada setumpuk sampah botol plastik. Mertua dan menantu itu terlihat sangat akrab, sesekali tawa mereka pecah, sambil terus memilah tumpukan sampah botol plastik.

Setelah dipilah, sampah botol plastik itu, dibersihkan lalu dipisahkan penutup botolnya yang masih melekat dalam botol. Begitulah rutinitas kedua penyintas yang tinggal di hunian sementara (huntara) Duyu ini.

Saban hari mereka mengisi waktu luang bekerja sebagai pemilah barang bekas di perusahan daur ulang PT. Duta Mitra Pegadaian Syariah.

Dalam sehari, mereka bisa memilah sampah plastik sebanyak 30-50 kg. Dari hasil pemilahan itu, mereka di upah Rp 800 rupiah per killogramnya.

“Jika sehari, kami bisa memilah sampah plastik sebanyak 30 kg. Maka kami mendapat upah sebanyak Rp24.000,” ujarnya.

Pekerjaan memilah sampah ini, belum lama mereka lakoni, baru sekitar satu bulanan lebih.

Sehari-hari, Suriyah menjual nasi kuning. Jika ada waktu luang, Suriyah bekerja sebagai pemilah barang bekas. Sejak tahun 2011 suaminya telah meninggal dunia.

“Daripada hanya berdiam diri di huntara, mendingan menyibukkan diri bekerja memilah sampah. Lumayan bisa menghasilkan uang bahkan emas,” ujar ibu lima anak ini.

Setiap hari ia mulai bekerja pukul 08.00 Wita dan berhenti pada pukul 16.00 Wita, walau sebenarnya tidak terikat jam kerja.

“Kalau cepat datang kerja dan pulangnya telat, maka banyak juga hasil di dapatkan. Lumayan sebagian bisa ditabung,”ujarnya.

Begitupun Dinar (30), belum lama bekerja sebagai pemilah. Sebelumnya, dia bekerja di perusahaan rotan, di Kelurahan Pantoloan, sebagai tenaga kerja pembersih rotan.

“Sekitar 3 tahunan saya menjadi tenaga kerja pembersih rotan,” ucapnya.

Akibat tsunami, perusahaan tempatnya bekerja hingga saat ini belum beroperasi kembali.

“Lumayan uang yang diperoleh, bisa ditabung atau diambil untuk belanja kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Manager The Gade Clean Gold, Kamis, (5/9/2019), Moh. Ivin mengatakan, pihaknya lebih mengutamakan pengepul barang bekas yang tinggal di sekitar perusahaan berdasarkan jenis yang mereka masukan.

Dia mengatakan ada beberapa kategori jenis plastik, di antaranya jenis pet, seperti botol mineral Aqua, Le Minerale, Rp 1500-2.200 perkillogramnya, tergantung bersih dan kotor.

Kemudian jenis blowing, seperti kemasan botol bekas oli, ember cat 5 killogram, Rp4000-5000 perkillogramnya.

Selain itu, ada jenis polypropylene (PP), seperti kursi plastic. Bagi pengepul yang menjual, uangnya bisa ditabung atau diambil langsung, pihaknya menyediakan buku tabungan, sewaktu-waktu dapat diambil.

“Pengepul dan pemilah, bisa langsung mencairkan uangnya,” ucapnya.

Bila pengepul dan pemilah, ingin menabung emas, kata dia, mereka mencairkan terlebih dulu disini, lalu bersama-sama, buka rekening tabungan emas di Pegadaian Syariah.

“Minimal Rp6000, sudah bisa buka rekening tabungan emas, kadar emas sekitar 0,0 sekian, tergantung naik-turunya emas,” jelasnya.

Ia mengatakan, nasabahnya sendiri tidak terbatas, malah paling banyak anak-anak sekolah. “Kurang lebih sekitar 30 orang nasabah anak-anak,” terangnya.

Perusahaan daur ulang PT. Duta Recycling, ini sendiri baru beroperasi, 06 Maret 2019, akibat bencana gempa 28 September 2018 lalu.

Perusahaan ini bekerjasama dengan Pegadaian Syariah, setiap bank sampah dicover pegadaian diberi nama the gade.

Ia mengatakan, barang bekas dari pengepul yang telah dipilah, dimasukan kedalam mesin penggiling pencacah plastik.

“Plastik yang telah dicacah inilah yang di kirim ke Surabaya,” ujarnya.

Dalam satu kali pengiriman kata dia, sekiytar 7 sampai 10 ton, paling cepat sekitar dua bulan lebih.

Menurutnya, pertama kali perusahaan ini berdiri, masyarakat setempat mengira akan mengganggu karena bising. Namun seiring berjalan waktu mereka melihat orang menjual plastik-plastik bekasnya dan menghasilkan uang, akhirnya mereka pun terlibat.

Pihak perusahaan, kata dia, juga memberdayakan masyarakat sekitar huntara untuk bekerja sebagai pemilah sampah.

Hal ini merupakan satu terobasan, sebagai anak muda dalam mengurangi sampah plastik dan lingkungan.

Seharusnya, lanjut dia, perusahaan daur ulang seperti ini didukung oleh pihak pemerintah. Sebab, selain dapat mengurangi penganguran juga, menjaga pencemaran lingkungan dari sampah plastik.

Reporter/Foto : Ikram
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini