Penyintas di Mamboro, dari sulitnya air hingga penyegelan huntara

0
124

PALU – Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara adalah salah satu wilayah terdampak bencana gempa dan tsunami terparah pada 28 September 2018 lalu. Banyak warga yang kehilangan harta benda bahkan sanak saudara kala itu. Ironisnya para pengungsi di beberapa titik huntara kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar mereka.

Seperti yang dialami warga huntara yang tinggal di belakang Terminal Induk Mamboro, mereka tidak lagi mendapat kebutuhan dasar, seperti sulitnya mendapatkan air bersih, belum ada kejelasan soal jaminan hidup (jadup), bahkan huntara yang mereka tempati disegel oleh pihak pekerja konstruksi.

“Sudah tidak pernah ada lagi bantuan sembako, air susah, dan yang paling parah huntara kami sudah 2 kali disegel,” kata Irfan koordinator huntara Mamboro saat dihubungi via handphone, Minggu, (14/7/2019).
Meskipun huntara tetap bisa dihuni, namun dua kali penyegelan tersebut membuat warga merasa tidak nyaman.

Keluhan yang sama juga di sampaikan Ifa (35) salah seorang penghuni huntara Mamboro yang ditemui Minggu, 14 Juli 2019 pagi. “Saat ini sudah lima hari air tidak jalan, kalaupun jalan airnya keruh. Jadi, mau tidak mau kita pergi ambil air di masjid yang ada di Layana,” ujarnya.

Untuk mengatasi sulitnya air, beberapa penghuni huntara lainnya terpaksa mengumpulkan uang Rp.2000 per orang. Setelah terkumpul uang itu lalu digunakan membeli air bersih.

Selain itu, sejak Februari hingga Juli 2019 dirinya dan beberapa penghuni huntara lainnya sudah tidak pernah mendapat bantuan kebutuhan pokok.

Setiap satu unit huntara memiliki 12 bilik dengan total 20 unit. Huntara Mamboro sendiri menampung 240 kepala keluarga yang berasal dari warga Kelurahan Mamboro Induk dan Mamboro Barat.

Sulitnya kondisi di huntara menyebabkan sebagian besar warga lebih memilih kembali ke tempat semula di wilayah terdampak tsunami. Di tempat mereka berasal itu, warga bisa membuat usaha kecil-kecilan untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami tidak bisa bertahan di sini terus, kami mau berusaha sendiri dan tidak mau berharap dengan bantuan yang belum pasti seperti jadup yang sampai sekarang belum jelas,” keluh Ifa.

Pemerintah sendiri pernah berjanji akan membagikan jaminan hidup (jadup) sebesar Rp 10 ribu per orang per hari. Namun sampai sekarang pembagian jadup belum juga ada realisasinya.[]

Penulis : Muhammad Faiz Syafar
Foto : Muhammad Faiz Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini