Penyintas Bencana, Menata Hidup di Rumah Impian

0
574
f-yardin MALAM PERDANA - Pipit Sandra menikmati suasana malam perdana di hunian asri Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako, Tondo - Palu Timur, usai menerima kunci dari Wali Kota Palu, Senin 18 Mei 2020

PALU – Setahun lebih bersesakan di barak pengungsi, telah melahirkan cerita panjang. Air bersih kadang beli sendiri, privasi menjadi terbatas, lingkungan yang tak nyaman bagi ibu-ibu dan remaja perempuan, adalah sebagian dari cerita tak sedap di hunian sementara. Kini, cerita kelam itu tinggal kenangan. Penantian panjang untuk menata hidup di rumah sendiri akhirnya terwujud.

Udara sore di hari ke-25 ramadan terasa sejuk. Hembusan angin perlahan menyapu kulit. Lembayung senja di atas langit Teluk Palu, mulai meredup. Perlahan, sorot lampu mercuri mulai menggantikan mentari sore yang menghilang perlahan di balik gugusan pegunungan Gawalise. Bola bola lampu menyorot dengan detail jejeran rumah mungil. Suasana terasa damai.

Dari kejauhan seorang ibu paruh baya, terlihat tak henti memandangi rumah mungil berkelir putih cokelat itu. Di dadanya menempel bocah sedang menyusu. Seorang bocah lagi merengek manja meminta perhatian sang ibu. Namun ia acuh. Pandangannya terus melahap bangunan di depannya. Dia adalah Pipit Sandra (36). Seorang penyintas asal Dupa Indah Kelurahan Tondo – Palu Timur yang menghuni huntara di Layana Indah.

Pipit Sandra kehilangan tiga orang dekatnya. Ipar dan dua orang mertuanya. Tak hanya itu. Tsunami pada sore 28 September 2018 itu pun melumat habis usaha mebelnya. Beruntung ia dan suaminya selamat dari amkan gelombang ganas itu.

f-yardin
BERCENGKRAMA – Abdulatif Bebas dan keluarga bercengkerama dengan keluarga di rumah baru, di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako, Tondo – Palu Timur, Senin 18 Mei 2020

Sedangkan dua anaknya, lahir saat menjadi penghuni di huntara Layana Indah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di huntara diakuinya terasa susah. Usaha mebelnya tiba tiba berubah jadi onggokan sampah. Untuk memulai usaha yang sama pun butuh modal yang tak sedikit. Jadilah suaminya menjadi pekerja lepas yang menggantungkan penghasilannya dari order pekerjaan. ”Kadang ada. Kadang juga tidak. Padahal ada anak kecil,” ujarnya mengenang kisah pahit kehidupannya di pengungsian.

Saat mendengar warga yang bermukim di zona merah bakal mendapat rumah gratis dari Yayasan Budha Tzu Chi, Pipit Sandra bertekad untuk menjadi salah satu yang mendapatkan rumah tersebut. Ia pun melengkapi seluruh administrasi yang dibutuhkan. Walau harus bolak balik melengkapi persyaratan, akhirnya ia ditetapkan menjadi salah satu di antara tujuh ribu lebih penyintas yang mendapatkan rumah tipe 36 tersebut. ”Alhamdulilah,” katanya pendek sembari terus memandangi rumah di blok P nomor 13 miliknya.

”Kalau malam ini sudah ada yang bermalam di sini, saya dan anak-anak tidur di sini saja,” ujar Sandra, sambil menggamit lengan anak sulungnya. Setelah mendapat hunian yang layak, ia bakal kembali menekuni usaha mebel yang sudah dirintisnya sejak beberapa tahun lalu.

 

Penyintas lainnya Abdulatif Bebas, pria kelahiran 17 Agustus 1968 termasuk beruntung. Tak hanya semua keluarganya selamat dalam peristiwa naas itu. Tiga anaknya yang juga sama-sama korban tsunami di Dupa Indah – Kelurahan Tondo, mendapat rumah sumbangan dari Yayasan Budha Tzu Chi ini.

 

Ditemui di rumah barunya Blok P Nomor 12, Abdulatif tampak duduk menikmati udara sore di kursi baru yang juga sumbangan dari Yayasan Budha Tzu Chi. Selain kursi makan 1 set, springbed king size di kamar utama dan ranjang susun di kamar lainnya, yang sudah terpasang rapi, di sana sini teronggok barang seadanya.

 

Ada pisang sepatu, beberapa piring dan tikar untuk lesehan. Ia dengan dibantu beberapa kerabat, ia sibuk merapikan barang yang diangkut dari huntara. ”Kalau dapurnya sudah siap, bisa saya tidur di sini,” katanya sambil membuka pintu menuju ruang dapur yang masih berupa tanah kosong.

Pemilik mebel bernama Mebel Awan Biru ini, mengaku bersyukur mendapatkan hunian walau harus menunggu setahun lebih. Abdulatif yang sehari-hari menghuni huntara di Layana Indah, ini mengaku bakal lebih tenang melanjutkan usaha bisnisnya setelah tinggal di rumah tetap. Kelak di rumah barunya ini, pria yang terlihat masih energik itu, akan tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang berusia 4 tahun.

TES RANJANG – Seorang anak mengetes ranjang baru sumbangan dari Yayasan Budha Tzu Chi di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako, Tondo – Palu Timur, Senin 18 Mei 2020

BARU 20 YANG KK YANG MASUK

Kehidupan di tanah tandus yang bakal dihuni 1.500 kepala keluarga penyintas, bakal lebih semarak. Tanah yang dikelola oleh salah satu perusahaan dengan skema hak guna usaha (HGU) diambil alih oleh Pemkot Palu, setelah HGU nya tersisa 5 tahun lagi. Kondisi kedaruratan ungkap Wali Kota Palu, Hidayat, memaksa pemerintah mengambil kembali hak pengelolaan tanah untuk kepentingan warga yang terdampak bencana.

Di atas lahan seluas 45 hektar itu, berdiri 1.500 unit rumah dengan dua kamar dan sisa tanah untuk dapur yang akan dibangun sendiri oleh penghuninya. Kini dengan keterbatasan air bersih, baru 20 kepala keluarga yang akan menempati kawasan yang berbatasan dengan kampus terbesar di Sulawesi Tengah – Universitas Tadulako tersebut.

Namun seiring dengan rampungnya pembangunan air bersih yang berasal dari Poboya, penyintas secara berangsur akan menempati unit miliknya. Secara umum fasilitas jalan selebar 8 meter sudah rampung. Listrik untuk rumah dan beberapa ruas jalan pun sudah terpasang. Demikian juga satu unit rumah ibadah kini memasuki tahap perampungan.

Pemerintah Kota Palu terus menghaturkan terima kasih kepada Yayasan Budha Tzu Chi yang menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk membantu warga terdampak bencana di Kota Palu. Sesuatu yang sulit dipenuhi jika mengharapkan anggaran pemerintah. Rasa terima kasih tak hanya terucap dari pemerintah.

Penyintas seperti Pipit Sandra dan Abdulatif merasa paling diuntungkan dengan kemurahan hati petinggi Yayasan Budha Tzu Chi. Karena di rumah-rumah inilah mereka mulai menyemai asa dan menata hidup kembali.

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini