Penyintas Bencana Butuh Modal untuk Berdagang

0
123

SIGI — Sejumlah pedagang pasar tradisional asal Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang terdampak bencana likuefaksi, belum bisa berjualan kembali karena tak punya modal.

Asmadi yang memiliki keseharian berdagang bawang merah di Pasar Biromaru dan Pasar Bulili, Kelurahan Petobo, belum melaksanakan aktivitasnya pascabencana. Tidak adanya modal, menjadi kendala utama.

Pria 49 tahun itu bercerita, bencana likuefaksi menghancurkan rumahnya. Padahal di rumah itu, ada 14 karung bawang merah yang akan ia jual keesokan harinya beserta uang simpanan untuk modal usaha. Saat berlari menyelamatkan diri, hanya ada uang Rp 30 ribu yang tersimpan di kantong celanannya.

“Saat bencana terjadi yang saya pikirkan hanyalah menyelamatkan diri dan keluarga,” kata Asmadi dengan wajah senduh.

Dalam proses menata hidup kembali, Asmadi masih bergantung bantuan dari relawan dan pemerintah. Untuk kebutuhan logistik, ia mendapatkan bantuan dari berbagai pihak seperti dari Badan Amil Zakat Nasional dan organisasi non-pemerintahan yang lain.

Padahal, kata Asmadi, ia ingin lebih mandiri. Ia berharap pemerintah memberinya modal agar bisa kembali berdagang bawang merah. Sebab sejumlah agen dari Makassar dan pedagang lain, mulai menawarkan barang lagi.

“Terpaksa saya menolak dengan halus karena tidak punya modal. Walaupun ada barang tapi kalau tidak punya uang untuk membelinya, mau dibayar pakai apa barang itu,” katanya bertanya balik.

Selain berdagang, Asmadi ingin kembali membangun rumah. Meskipun ia telah kehilangan isteri, menantu dan 3 orang cucu yang menjadi korban likuefaksi. Bahkan jenazah menantu dan cucunya belum ditemukan hingga saat ini.

Asmadi kini tetap berusaha tegar meski kehilangan banyak anggota keluarga. Gambaran kesedihan terlihat dikalahkan oleh semangat melanjutkan hidup dan memperbaiki diri ke depannya.

“Jika nanti ada bantuan modal dari pemerintah, uang itu akan saya pakai untuk usaha agar nanti bisa membangun rumah lagi. Saat dapat uang saya tidak mau langsung bangun rumah. Kalau bangun rumah terlebih dulu, pasti uangnya habis. Saya anggap bencana ini sebagai jalan untuk mencuci diri. Tuhan akan selalu menguji kita,” ucapnya dengan penuh kebijaksanaan.

Hal yang sama juga dialami oleh Saprudin (24), yang sebelum bencana ia berdagang di Pasar Marnata, Mamboro dan Marawola. Dengan semangat yang tersisa setelah ditinggal oleh istri dan anaknya, Saprudin tetap dalam tahap menata hidup. Terutama membuat rumah dan mencari modal. Saat ini Saprudin masih tinggal di pengungsian daerah Pombeve.

“Saya belum bisa berdagang lagi karena modal yang tidak ada. Selain modal, kendaraan saya telah ditelan lumpur. Sedangkan kendaraan itu yang memobilisasi saya untuk berdagang.”.

Terlihat jelas raut wajah Saprudin yang berusaha menutupi kesedihan yang ada dengan senyum yang mengandung spirit kebangkitan. Harapan-harapan juga diutarakan oleh Saprudin. Salah satu harapannya agar semua orang sadar dengan teguran dari Tuhan untuk hambanya.

“Harapannya tidak ada lagi perselisihan yang tidak berguna. Kita sudah diberikan bencana sebagai teguran agar kita lebih baik lagi ke depannya. Selain itu saya juga berharap bantuan modal usaha untuk memulai aktivitas saya sebagai seorang pedagang”. Katanya dengan penuh harap.

Reporter: Rizaldy Alif S.
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini