Pentingnya Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal

0
647
Foto : ilustrasi

PALU – Sejumah ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, selain meningkatkan teknologi peringatan dini bencana alam, edukasi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal juga penting diterapkan kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Dr Adrin Tohari, Peneliti Ahli Madya Bidang Geoteknik Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI mengatakan, teknologi sistem peringatan dini yang digunakan di Sulawesi Tengah, sebelum bencana masih belum efektif karena belum mempertimbangkan kondisi padamnya listrik.

Jika ingin sistem peringatan dini bencana alam khususnya tsunami bisa menjadi efektif, kata dia,  maka harus menggunakan teknologi pemantauan bencana alam yang bisa beroperasi ketika listrik padam. Selain  itu, perlu diperbanyak pemasangan alat peringatan dini di wilayah pesisir dan perairan Kota Palu.

Selain meningkatkan sistem pemantauan gempa dan tsunami, penting juga memberikan pemahaman kepada masyarakat dan pemerintah daerah bagaimana mengurangi risiko jika terjadi gempa dengan menggunakan pengetahuan lokal.

Setahu dia, di Kota Palu, Sigi dan Donggala ada pengetahuan lokal tentang mitigasi bencana, seperti dalam istilah tsunami dalam bahasa Kaili, bomba talu, kemudian untuk likuifaksi berupa aliran lumpur itu dalam bahasa Kaili disebut nalodo.

Dengan adanya pengetahuan lokal tentang bencana masa lampau, kata dia, maka bisa menjadi basis upaya mitigasi bagi masyarakat Palu, Sigi dan Donggala. Sehingga ke depannya bisa meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

Senada dengan itu, Dr Widjo Kongko dari BPPT mengatakan, kedepannya harus ada edukasi atau mitigasi bencana terhadap warga terutama berbasis kearifan lokal.

“Jangan hanya terpaku pada teknologi peringatan dini saja, tapi harus menggali mitigasi bencana lewat kearifan lokal yang ada,” ujarnya.

Belajar dari peristiwa gempa 28 September 2018 lalu, saat terjadi gempa rentang waktu antara terjadinya gempa bermagnitudo 7,4 SR  dengan gelombang tsunami hanya kurang lebih empat menit. Saat itu, sistem peringatan dini tidak bekerja efektif menyampaikan peringatan kepada masyarakat tentang adanya potensi tsunami.

Bahkan alarm tidak berbunyi karena, listrik padam. Demikian juga alat pasang surut Pantoloan milik Badan Informasi Geospasial (BIG) kala itu, hanya bisa merekam pergerakan pasang surut air laut namun tidak bisa mengirimkan data.

Terpisah Iksam Djorimi Arkeolog Museum Kota Palu mengatakan, beberapa komunitas di wilayah Palu, Donggala selamat saat peristiwa tsunami terjadi. Padahal mereka tidak mempergunakan peralatan elektronik berbasis teknologi.

Saat itu, lanjut dia, mereka hanya menggunakan mitigasi bencana berbasis pengetahuan lokal yang diketahui lewat orang tua secara turun temurun dari mulut kemulut.

Sayangnya, pengetahuan itu, kata dia, sudah mulai terlupakan atau tidak lagi terbagi sehingga pada saat peristiwa bencana terjadi banyak warga yang tidak tahu harus berbuat apa.

Bencana alam yang terjadi hampir sebelas bulan silam, membuat banyak pihak termasuk dirinya tersadar bahwa, sejak dahulu para leluhur dan orang tua telah mengajarkan tentang mitigasi bencana berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau.

Kata dia, pengetahuan itu, sampai saat ini masih bisa dilihat atau diketahui berdasarkan toponimi beberapa tempat di Palu, Sigi dan Donggala. Bahkan mitigasi bencana itu bisa dibaca pada buku yang telah diterbitkan sejak tahun 1985 dengan judul “Upacara tradisional dalam kaitannya dengan peristiwa alam dan kepercayaan daerah Sulawesi Tengah”.

Penulis          : Irwan K Basir
Editor            : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini