Pengungsi Petobo Membutuhkan Tambahan Pasokan Air

0
139

PALU — Air adalah salah satu kebutuhan yang sering dikeluhkan oleh para perempuan di pengungsian Kelurahan Petobo, Palu Selatan. Terutama air untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus.

Ibu Marni, salah satu pengungsi, mengatakan, air untuk MCK sering kosong di malam hari. Sebab pasokan air akan selalu habis menjelang sore. Padahal banyak pengungsi yang harus buang air besar atau air kecil di saat malam.

“Apalagi banyak anak yang diare, jadi kalau malam pasti bingung karena air untuk toilet kosong,” keluh perempuan 46 tahun itu, 24 November 2018.

Karena air habis, beberapa pengungsi terpaksa membiarkan kotoran di kloset. Itu membuat kondisi WC umum di pengungsian berbau menyengat.

Selain kosong pada malam hari, pasokan air yang ada tidak cukup untuk mandi dan mencuci baju. “Air yang dipasok cuma cukup untuk toilet dan cuci piring,” kata pengungsi lainnya, Reni.

Terbatasnya pasokan air bersih, membuat para pengungsi harus menggunakan sungai di dekat lokasi pengungsian untuk mandi dan mencuci baju. Tapi air di sungai itupun, hanya akan mengalir saat hujan turun.

Saat tidak ada hujan, sungai pun kering. Pengungsi terpaksa ke bagian hulu di Desa Ngata Baru, yang ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.

Reni pun meminta agar pemerintah bisa menambah pasokan air menjadi 2-3 kali sehari agar kebutuhan pengungsi tercukupi.

Pasokan air yang tidak memadai ke pengungsian, diakui pula oleh staf Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Palu, Geby Botilangi.

Menurut Geby, kurangnya air bersih membuat pengungsi mencari air sendiri ke sungai-sungai. “Kondisi itu berpotensi terjadi pelecehan seksual terutama pada anak gadis,” katanya saat diskusi di sekretariat Sulteng Bergerak, Jumat 23 November 2018.

Kordinator Tim Water Sanitation and Hygiene (WASH) Palang Merah Indonesia (PMI), Syukri, mengatakan, pasokan air bersih ke pengungsian Petobo seharusnya cukup. Sesuai standar pelayanan minimal, kebutuhan air dalam kondisi penanggulangan bencana sebanyak 15 liter per orang per hari. Itu terbagi untuk kebutuhan minum antara 5-7,5 liter/hari dan sisanya untuk MCK.

Menurut Sukri, di Petobo jumlah pengungsi yang ditangani oleh PMI sebanyak 905 jiwa, berarti total kebutuhan air bersih sebanyak 13.575 liter per hari. Sementara, Tim WASH PMI selalu mengirimkan 20 ribu liter air per hari.

Syukri menduga, pemakaian air di pengungsian terlalu boros. Dia juga menemukan air yang seharusnya untuk MCK justru dipakai untuk memandikan sepeda motor.

“Jadi kalau pemakaian air lebih hemat, maka pasokan dari kami bisa mencukupi kebutuhan seluruh pengungsi,” kata dia.

Penulis: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini