Pengungsi Desa Kabobona Mulai Tempati Huntara

0
245

SIGI – Sambil menggendong bayinya, Susilawati memutar handel pintu. Setelah mengucap salam, perlahan ia melangkah masuk ke hunian sementara (huntara) di Desa Kabobona, Kabupaten Sigi, Rabu (28/11/2018).

Susilawati menatap sekeliling ruangan berukuran sekitar 4 x 3 meter yang akan jadi tempatnya bermukim sementara bersama keluarga kecilnya. Bagi dia, ruangan sempit itu jauh lebih nyaman ketimbang berada di tenda pengungsian.

Air yang tersedia juga jauh lebih cukup dengan jamban yang layak. Terlebih lagi ada halaman yang lebih luas untuk bermain anak-anak.

“Syukurlah sudah ada tempat berteduh sementara. Daripada di tenda yang panas kalau siang dan dingin kalau malam,” kata Susilawati sembari meninabobokkan bayinya, Rizky.

Ruangan itu masih kosong, tanpa perabot. Selain memboyong keluarganya, Susilawati juga membawa sejumlah perkakas seperti tikar dan bantal. Perkakas itu dulunya ia pungut di antara reruntuhan rumahnya.

Hari itu adalah hari pertama bagi Susilawati dan ratusan pengungsi dari Desa Kabobona menempati huntara yang dibangun oleh Bank Mandiri. Melalui program BUMN Hadir Untuk Negeri, Bank Mandiri mendirikan 150 unit bilik bagi pengungsi.

Warga Kabobona mengungsi setelah kampung mereka dilanda banjir bandang usai gempa berkekuatan M 7,4 tepat 28 September lalu.

Dua bulan tinggal di tenda pengungsian memang bukan hal mudah bagi Susilawati. Sebab ketika bencana datang, usia kandungannya menjelang sembilan bulan. Ia pun melahirkan di tenda pengungsian, dibantu oleh sejumlah petugas medis dan relawan di posko kesehatan.

Ia bersyukur bayinya lahir selamat dan sehat. Bayi laki-laki yang kini digendongannya itu ia beri nama Rizky. Usianya kini telah satu bulan.

Perjuangannya belum berakhir. Sebab tidak mudah merawat bayi baru lahir di tenda pengungsian, sementara tubuhnya sendiri masih lelah setelah melahirkan.

Kondisi tenda yang kurang nyaman menjadi tantangan sehari-hari. Tatkala siang hari, ia harus membawa sang bayi ke teras masjid di dekat pengungsian untuk menghindari terik yang membakar.

Sebaliknya, saat hujan turun di malam hari, ia pun bergegas membawa Rizky ke masjid karena tenda menjadi basah.

“Kalau hujan tendanya pasti basah. Kan, kasihan bayinya,” ujarnya lirih.

Meski dalam keterbatasan seperti itu, Susilawati bertekad tetap melanjutkan hidup bersama keluarganya. Baginya, bencana harus tetap dihadapi dengan tegar.

“Orang bilang kita harus kuat. Yah, saya juga begitu, saya harus kuat. Kita harus tetap melanjutkan hidup, meskipun banyak masalah yang akan kita hadapi,” kata Susilawati.

Pemerintah Kabupaten Sigi telah memverifikasi bahwa ada 11.066 rumah rusak akibat gempa. Sedangkan huntara yang dibangun mencapai 1.300 unit.

Sebanyak 1000 huntara di antaranya dibangun oleh berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu BNI, Bank Mandiri dan PT Wijaya Karya (WIKA).

Ketiga BUMN tersebut mendirikan huntara di Desa Lolu dan Mpanau Kecamatan Sigi Biromaru, Desa Potoya dan Kabobona Kecamatan Dolo serta Desa Sibalaya Selatan Kecamatan Tanambulava.

Sementara 300 unit huntara sisanya dibangun oleh yayasan kemanusiaan seperti ACT.

Reporter: Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini