Pengalaman Getir Penyintas Balaroa 370 Hari Bertahan di Tenda

0
250
SEGERA PINDAH - Pengungsi di shelter Balaroa dua tahun bertahan di tenda. (foto: Kristina Natalia)

HARI ini genap dua tahun gempa tsunami dan liquefaksi memorakporandakan sebagian wilayah Sulawesi Tengah. Tragedi kemanusiaan yang membuat banyak orang terdegadrasi derajat kemanusiaannya. Hidup di tenda-tenda dan beberapa lama menggantungkan hidup dari uluran tangan dermawan.

Dua tahun masa pemulihan bencana, kondisinya belum benar-benar pulih. Masih banyak bengkalai yang belum terurus. Khususnya hak-hak pengungsi. Di Kabupaten Donggala, pembangunan rumah yang dibiayai dari dana stimulan belum sepenuhnya rampung. Di Kota Palu, hunian tetap masih terus dikebut setelah sebelumnya diselingi drama saling klaim lahan. Di Kabupaten Sigi, sejumlah pengungsi terpantau masih bertahan di huntara-huntara di tengah dukungan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang makin minim.

Sementara, hunian tetap yang dijanjikan Presiden Jokowi rampung 2019, molor jauh. Bahkan hingga 370 hari kemudian sejumlah keluarga bahkan masih tinggal di tenda yang kondisinya sudah mengenaskan.

BAKAL PINDAH DI HUNTARA – Setelah bertahan 2 tahun warga akhirnya pindah ke huntara yang terdapat Kelurahan Balaroa (foto: Kristina Natalia)

Rizal Mohamad (58) dan istrinya Emilia Salman (25) sebentar lagi akan pindah. Meninggalkan suka duka di tenda pengungsian. Pasangan suami istri ini dan dua anaknya yang masih usia Sekolah Dasar (SD) ditenggat akhir September ini harus angkat kaki. Pemerintah Kota Palu akan membersihkan tenda pengungsian di wilayah itu.

Ia melanjutkan, Pemkot tidak mengakomodir warga dengan status sepertinya dirinya untuk mendapatkan hunian tetap. Ia adalah warga Balaroa yang saat liquefaksi meluluhlantakan wilayah Balaroa, tinggal di rumah kontrakan. Kini rumah kontrakannya di Jalan Kanna Lorong 1, hilang tak berbekas.

Penyintas seperti Rizal tidak masuk dalam skema Pemkot sebagai warga ber KTP Palu yang mendapatkan hunian tetap. Maka pilihannya adalah bernaung di tenda. ”Tenda katanya mau dibogkar sudah,” ucap Rizal, ditemui Jumat 18 September 2020. Rizal tidak sendiri. Ada belasan koleganya di shelter pengungsian Balaroa yang bernasib sama. ”Kalau saya kontrak makanya tidak dapat bantuan huntap. Hanya dihitung yang punya sertifikat tanah saja,” tuturnya.

Tenda yang ditinggali Rizal memang tak layak dihuni. Di sana sini terlihat sobekan menganga. Di dalamnya terhampar kasur lusuh. Jika sewaktu-waktu hujan turun, seisi tenda dibuat sibuk. Menyelamatkan properti penting rumah tangga. Hari hari ini, saat Kota Palu kerap dihantam hujan yang dibarengi banjir, kehidupan mereka ucap istri Rizal, Emilia Salman, tak pernah benar-benar nyaman. Kerepotan makin menjadi-jadi jika hujan turun malam hari. Selain tenda bocor, air keruh masuk di dalam tenda yang didirikan posisi tanah miring. Perabot rumah pun terancam basah membuat mereka tidak bisa tidur semalaman. Selain itu, suplai air bersih pun mulai bermasalah.

Hujan deras diikuti banjir yang menghantam wilayah itu beberapa hari, membuat pipa-pipa rusak. Mereka terpaksa menadah air hujan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

SEGERA PINDAH – Pengungsi di shelter Balaroa dua tahun bertahan di tenda. (foto: Kristina Natalia)

Beruntung, cerita getir kehidupan di tenda berakhir sebentar lagi. Paling lambat akhir September 2020, penghuni tenda di shelter Balaroa dipindahkan hunian sementara di Balaroa. Bagi pasangan ini, tawaran Pemkot ini melegahkan tinimbang harus meringkuk dalam tenda. Gerah di siang hari. Dingin menusuk tulang di malam hari. Dan kocar kacir saat hujan mengguyur.

Senyum semringah juga terpancar dari wajah Desyana (35). Ibu rumah tangga yang sempat patah hati karena usaha dan kerja kerasnya mendapat huntap gagal. ”Sudah sabar kita karena huntara kita tidak dapat dan tinggal di tenda hampir dua tahun. Ini dikasih Huntara yah alhamdulillah kita senang sedikit,” cerocos Desyana.

Desyana sudah 12 tahun jadi warga Kelurahan Balaroa. Ia mengontrak bersama suaminya Masdar (57) dan dua anaknya. Nasibnya mirip-mirip dengan Rizal dan penyintas di tenda pengungsian Balaroa lainnya. ”Itu juga yang kita sesali, masa hanya yang punya sertifikat yang dapat huntap. Kami ini juga korban bencana. Mau tinggal di mana lagi kita kalau bukan berharap dari pemerintah,” ucapnya agak kesal.

Suaminya Masdar, seorang pedagang di pasar. Masdar membantu rekannya jualan dan diberi upah Rp100 ribu per hari. Biaya ini tidak terhitung ongkos transportasi pulang pergi ke pasar dan uang makan. Ibu dua anak ini mengaku harus cerdik mengatur keuangan agar keluarga tetap makan.

Kelak di tempat barunya di huntara Balaroa, Desyana dan Emilia Salman akan menjalani kehidupan yang lebih manusiawi. Meninggalkan kehidupan buluk di tenda. Menata kehidupan untuk meraih kembali harkat kemanusiaannya. ***

Penulis  : Kristina Natalia
Editor    : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini